Oleh : Anno Moalaka
MAUMERE | Go Indonesia.id-โKrisis ekonomi dan politik global yang terjadi saat ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan hasil akumulasi dari ketimpangan struktural yang telah lama dibiarkan. (20/1/26).
Ketergantungan dunia pada sistem ekonomi global yang tidak adil, ditambah dengan kepemimpinan politik yang lebih mementingkan stabilitas kekuasaan daripada kesejahteraan rakyat, telah memperparah kondisi krisis di berbagai belahan dunia.
โ
โSecara ekonomi, sistem pasar global masih didominasi oleh negara-negara maju dan korporasi besar yang memiliki kendali atas sumber daya, teknologi, dan arus keuangan. Negara berkembang sering kali terjebak dalam utang, eksploitasi sumber daya alam, serta ketergantungan pada pasar global yang rapuh. Ketika terjadi krisis baik akibat pandemi, konflik geopolitik, maupun perubahan iklim negara-negara miskin menjadi pihak yang paling terdampak, sementara negara kuat justru mampu melindungi kepentingannya sendiri.
โ
โDari sisi politik, meningkatnya konflik internasional, populisme, dan melemahnya kerja sama multilateral menunjukkan kegagalan sistem politik global dalam menciptakan stabilitas dan keadilan. Alih-alih menyelesaikan akar persoalan, banyak negara justru memperkuat nasionalisme sempit dan rivalitas kekuatan, yang berujung pada perang, sanksi ekonomi, dan instabilitas regional. Rakyat sipil kembali menjadi korban, sementara elit politik saling mempertahankan pengaruh.
โ
โKrisis ini seharusnya menjadi momentum refleksi global. Dunia membutuhkan tatanan ekonomi yang lebih inklusif dan kepemimpinan politik yang berorientasi pada solidaritas, bukan dominasi. Tanpa perubahan mendasar dalam cara negara-negara mengelola kekuasaan dan sumber daya, krisis ekonomi dan politik global akan terus berulang dan ketimpangan akan semakin menganga.
โ
โKrisis ekonomi yang melanda banyak negara berkembang hari ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rantai panjang ketimpangan global yang dipengaruhi oleh praktik imperialisme modern. Dalam konteks ini, mahasiswa sebagai kelompok intelektual muda memiliki peran strategis yang tidak boleh direduksi hanya sebagai penonton pasif. Sayangnya, tidak sedikit mahasiswa yang justru terjebak dalam sikap apatis, lebih sibuk mengejar kepentingan personal daripada membaca realitas sosial yang semakin menindas rakyat kecil.
โ
โImperialisme tidak lagi hadir dalam bentuk penjajahan fisik, melainkan melalui dominasi ekonomi, utang luar negeri, investasi yang eksploitatif, serta intervensi kebijakan oleh negara atau lembaga global. Dampaknya sangat nyata: harga kebutuhan pokok meningkat, lapangan kerja menyempit, dan kedaulatan ekonomi bangsa semakin tergerus. Ironisnya, kebijakan negara sering kali lebih berpihak pada kepentingan kapital asing dibandingkan kesejahteraan rakyatnya sendiri. Di sinilah seharusnya suara mahasiswa menjadi kekuatan penyeimbang.
โ
โMahasiswa memiliki akses terhadap pengetahuan, ruang diskusi, dan kebebasan berpikir yang relatif lebih luas dibandingkan kelompok masyarakat lainnya. Dengan modal tersebut, mahasiswa semestinya mampu mengkritisi narasi-narasi ekonomi yang menormalisasi ketimpangan dan mengungkap bagaimana imperialisme bekerja secara sistemik. Namun, kritik tanpa tindakan hanya akan menjadi wacana kosong. Kesadaran intelektual harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata, baik melalui advokasi kebijakan, pengorganisasian masyarakat, maupun aksi kolektif yang berorientasi pada perubahan struktural.
โ
โDi sisi lain, mahasiswa juga perlu bersikap kritis terhadap dirinya sendiri. Gerakan mahasiswa tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu atau kepentingan elit tertentu. Perjuangan melawan krisis ekonomi dan imperialisme menuntut konsistensi moral, keberpihakan yang jelas kepada rakyat tertindas, serta keberanian untuk melawan arus kenyamanan. Tanpa itu, mahasiswa hanya akan menjadi bagian dari sistem yang mereka kritik.
โ
โPada akhirnya, sikap mahasiswa dalam menanggapi krisis ekonomi dan imperialisme akan menentukan apakah mereka layak disebut sebagai agen perubahan atau sekadar produk dari sistem yang tidak adil. Dalam situasi krisis, netralitas bukanlah pilihan. Diam berarti membiarkan penindasan terus berlangsung, sementara bersuara dan bertindak adalah bentuk tanggung jawab historis mahasiswa terhadap masa depan bangsa.
Redaksi







