Pena Sang Raja di Jantung Perbatasan, Mengapa Amran Tak Lagi Memakai Gelar?

1a 929

NATUNA | Go Indonesia.idโ€“ Di wilayah terdepan utara Indonesia, nama Amran dikenal sebagai sosok tegas di balik kemudi redaksi Koran Perbatasan. Namun di balik kiprahnya sebagai jurnalis, tersimpan garis sejarah panjang yang mengalir dari Kerajaan Indragiri.

Amran merupakan keturunan langsung Raja Narasinga II, Sultan Indragiri ke-4 yang dikenal sebagai tokoh perlawanan terhadap Portugis dan membawa kerajaan pada masa kejayaan. jumat (13/2/26)

Bacaan Lainnya

Advertisement

Meski demikian, Amran memilih tidak menyematkan gelar โ€œRajaโ€ di depan namanya. Ia menempuh jalan berbeda: mengabdi melalui dunia jurnalistik di wilayah perbatasan.

Takdir Adat dan Garis Perempuan

Jejak silsilah Amran menelusuri jalur Simandolak, bermula dari Raja Bagung hingga Raja Alamsyah. Dalam catatan keluarga, terjadi titik transisi pada generasi Raja Zainah, putri kandung Raja Alamsyah.

Dalam sistem adat Melayu Indragiri yang menganut patrilineal, gelar โ€œRajaโ€ diwariskan melalui garis laki-laki. Sebagai putri, Raja Zainah mewarisi darah kebangsawanan, namun tidak meneruskan gelar formal kepada keturunannya.

Dari jalur inilah lahir generasi berikutnya, hingga sampai kepada Amran. Secara biologis ia adalah zuriat kerajaan, tetapi secara adat tidak menyandang atribut gelar.
Dari Pedang ke Pena

Jika pada masanya Raja Narasinga II menjaga kedaulatan melalui strategi dan kepemimpinan kerajaan, Amran memilih menjaga kedaulatan informasi melalui tulisan. Di Kabupaten Natuna, wilayah yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna Utara, ia dikenal konsisten mengangkat isu-isu strategis daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Sebagai Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, Amran kerap menyoroti transparansi anggaran daerah, realisasi APBD, pembangunan desa terpencil, hingga kinerja pejabat publik. Tulisan-tulisannya tegas, berbasis data, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas. Tak jarang, sikap kritis tersebut memunculkan tekanan, ancaman, maupun polemik.

Namun bagi Amran, integritas adalah mahkota baru. Ia meyakini bahwa martabat keturunan raja tidak diukur dari panjangnya gelar, melainkan dari besarnya pengabdian kepada masyarakat.
Konsolidasi Sejarah dalam Wajah Modern

Dalam sejarah Indragiri, Narasinga II dikenal sebagai figur konsolidator kekuasaan. Dalam konteks modern, konsolidasi itu berubah menjadi konsolidasi informasi. Di wilayah perbatasan seperti Natuna, informasi bukan sekadar berita, melainkan bagian dari pertahanan sosial.

Melalui media, Amran membangun kontrol sosial dan memperkuat akuntabilitas publik. Jika dahulu kepemimpinan ditegakkan melalui struktur adat dan kerajaan, kini kepemimpinan hadir melalui keberanian menyampaikan fakta.

Ia tetap menghormati garis keturunan dan sejarah keluarga besar Indragiri. Namun peran sosialnya disesuaikan dengan zaman. Gelar tidak lagi menjadi identitas utama. Yang menonjol adalah tanggung jawab profesi dan keberpihakan pada rakyat.

Di ruang redaksi, jauh dari singgasana, perjuangan tetap berlangsung. Bukan dengan pasukan, melainkan dengan data. Bukan dengan titah, melainkan dengan laporan investigatif.

Nama Amran hari ini lebih dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Koran Perbatasanโ€”bukan sebagai โ€œRajaโ€. Dan di jantung perbatasan, pena telah menjadi mahkota barunya.

Redaksi


Advertisement

Pos terkait