Tradisi Mungahan Menjelang Ramadhan: Momentum Silaturahmi dan Pembersihan Diri

IMG 20260216 WA0186

TANJUNGPINANG | Go Indonesia.id– Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat kembali menghidupkan tradisi Mungahan, sebuah adat yang telah lama mengakar sebagai bentuk persiapan lahir dan batin sebelum memasuki bulan puasa.

Mungahan dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia sebagai tradisi berkumpul bersama keluarga, kerabat, dan tetangga. Biasanya diisi dengan doa bersama, makan bersama, saling memaafkan, serta ziarah kubur. (16/2/26).

Bacaan Lainnya

Advertisement

Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus refleksi diri sebelum menjalani ibadah Ramadhan.

Secara budaya, Mungahan bukan sekadar kegiatan seremonial. Tradisi ini memiliki makna mendalam, yakni mempererat silaturahmi, membersihkan hati dari kesalahan, serta memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

Di beberapa wilayah, warga juga membersihkan lingkungan, masjid, dan makam keluarga sebagai bagian dari persiapan spiritual.

Tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa tradisi ini telah diwariskan turun-temurun dan tetap relevan hingga kini.

“Mungahan menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan sesama,” ujarnya.

Selain menjadi momen kebersamaan keluarga, Mungahan juga berdampak sosial dan ekonomi.

Pedagang bahan makanan dan kebutuhan pokok biasanya mengalami peningkatan permintaan karena masyarakat menyiapkan hidangan untuk acara makan bersama.

Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi Mungahan tetap bertahan sebagai bagian dari identitas budaya dan kearifan lokal masyarakat.

Nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur menjadi inti dari tradisi ini.

Dengan semangat Mungahan, masyarakat berharap dapat memasuki bulan suci Ramadhan dengan hati yang bersih, hubungan yang harmonis, dan tekad yang kuat untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Editor: redaksi


Advertisement

Pos terkait