Masyarakat Natuna Menunggu Janji Bupati: Antara Harapan dan Mimpi yang Terbangun

IMG 20260221 WA0035

Oleh: Baharullazi (Ketua DPD IWOI Natuna)

NATUNA | Go Indonesia.idโ€“ Waktu terus berjalan. Di tengah dinamika pembangunan daerah perbatasan, masyarakat Kabupaten Natuna masih menunggu realisasi berbagai janji besar yang pernah disampaikan kepada publik.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Janji-janji tersebut bukan perkara kecil. Ia menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari ekonomi, infrastruktur, hingga kesejahteraan aparatur dan tenaga honorer.(21/2/26).

Beberapa poin yang hingga kini masih menjadi pembicaraan di warung kopi, pelantar nelayan, hingga ruang-ruang diskusi masyarakat antara lain:

Tiket pesawat murah agar mobilitas warga tidak lagi terbebani biaya tinggi.
Listrik 24 jam tanpa pemadaman di seluruh wilayah Natuna.

Jaringan internet merata hingga ke pulau-pulau terluar.
Pinjaman bunga 0% untuk UMKM.
Penataan Pantai Piwang demi mendukung pedagang kecil.

Menarik investor untuk membuka lapangan kerja baru.

Pengadaan 97.000 ekor sapi serta program peternakan skala besar guna memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi lokal.

Pengerukan Sungai Limau Manis dan perbaikan Sungai Sebadai Ulu untuk mengatasi banjir.

Ketersediaan air bersih melalui pembangunan embung.
Peningkatan status RSUD agar pelayanan kesehatan semakin maksimal.

Perbaikan jalan secara menyeluruh.
Program Qurโ€™an Center (Maghrib Mengaji).
TPP ASN yang lancar serta gaji Non-ASN tepat waktu.

Pengangkatan PTT menjadi PPPK.
Perluasan Pelabuhan Seluan.
Gratis pembayaran air selamanya bagi masyarakat Sedanau.

Kemudahan masyarakat bertemu bupati.
Serta komitmen membawa lebih banyak anggaran pusat ke Natuna.

Semua ini adalah janji besar yang, jika terealisasi, tentu akan membawa perubahan signifikan bagi daerah perbatasan tersebut.

Namun di lapangan, masyarakat masih merasakan sejumlah persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Harga tiket masih menjadi keluhan. Pasokan listrik di beberapa wilayah belum stabil.

Jaringan internet belum merata. Pelaku UMKM masih berharap dukungan nyata.

Masyarakat tidak menuntut kesempurnaan. Mereka hanya ingin melihat progres yang jelas dan transparansi atas setiap kebijakan yang dijalankan.

Di tengah harapan itu, muncul refleksi yang menggambarkan perasaan sebagian warga.

Baru-baru ini, seorang warga mengaku sempat tersenyum dalam tidurnya. Dalam mimpinya, ia menyaksikan Natuna berubah drastis.

Harga tiket pesawat turun signifikan. Pesawat Superjet mendarat gagah di bandara, membuka konektivitas baru. Pabrik kelapa berdiri melalui kerja sama dengan PT Salim Group, menyerap tenaga kerja lokal.

Pelabuhan internasional di Selat Lampa ramai aktivitas perdagangan. Investor berdatangan setelah promosi hingga ke Batam.

Sapi-sapi berkembang biak, menjadikan sektor peternakan Natuna maju dan mandiri.

Dalam mimpi itu, Natuna tampak hidup.
Natuna tampak diperhitungkan.
Natuna tampak bangkit.

Namun ketika terbangun, ia kembali pada kenyataan. Semua itu masih sebatas harapan.

Mimpi memang gratis,โ€ ujarnya, โ€œtetapi untuk mewujudkannya dibutuhkan keberanian, kerja nyata, dan kesungguhan.โ€

Harapan masyarakat Natuna sejatinya sederhana: janji yang diucapkan dapat diwujudkan secara bertahap, terukur, dan transparan.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan tidak diukur dari banyaknya janji, melainkan dari bukti yang dirasakan langsung oleh rakyat.

Kini masyarakat masih menungguย  apakah mimpi itu akan tetap menjadi bunga tidur, atau suatu hari benar-benar menjadi kenyataan.

Redaksi


Advertisement

Pos terkait