JAKARTA | Go Indonesia.id– Belum kering tinta di atas kertas janji manis “Dongeng 3 Juta Rumah” ala Presiden Prabowo, kini gerbong Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) rupanya sudah mulai rontok sebelum mesinnya panas.
Ibarat kapal yang baru mau berlayar tapi nahkodanya sudah sibuk mencari sekoci, dua pejabat terasnya mendadak kompak menyatakan “pamit” dari panggung sandiwara ini.
Alih-alih pamer kerja nyata demi memoles citra di depan rakyat yang sudah penat dengan janji, kementerian di bawah komando Maruarar Sirait ini malah kembali jadi tontonan menarik.
Azis Andriansyah dan Imran resmi mengibarkan bendera putih, memilih undur diri dari kursi empuk yang biasanya jadi rebutan para pemburu takhta.
Drama Surat Cinta via WhatsApp
Publik disuguhkan dengan kepiawaian pejabat dalam merangkai kata-kata pamit yang begitu melankolis dari Azis Andriansyah, yang tadinya menjabat Direktur Jenderal Tata Kelola dan Pengendalian Risiko.
Ia mengirimkan pesan via WhatsApp yang isinya sangat menyentuh dan sopan.
“Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bp Menteri dan Keluarga Besar Kementerian PKP atas dukungan dan kerja sama selama ini,” tulis Azis Andriansyah dalam pesannya via WhatsApp.
Imran, sang mantan Dirjen Perumahan Perdesaan, juga tak mau kalah saing dalam urusan drama pamit. Dia menulis permintaan maaf jika ada sikap dan tingkah laku yang kurang pantas.
“Banyak hal yang telah kita lewati bersama untuk membesarkan kementerian ini…” tulis Imran.
“Selama 1 tahun 3 bulan ini, banyak hal yang telah kita lewati bersama untuk membesarkan kementerian ini, dari hati yang paling dalam saya mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya dan mohon maaf atas kekurangan, sikap, dan tingkah laku saya yang kurang pantas,” lanjut Imran.
Padahal, mereka baru mencicipi kursi panas itu sekitar 16 bulan. Apakah 16 bulan itu cukup untuk membuat mereka sadar bahwa beban dongeng 3 juta rumah itu terlalu berat untuk pundak manusia biasa atau, karena tidak cocok dengan siklus kerja termasuk gaya dan kepemimpinan Maruarar Sirait yang konon juga tidak sejalan dengan Wakilnya Fahri Hamzah?
Keduanya baru dilantik dengan penuh kemegahan pada Januari 2025 lewat Keputusan Presiden Nomor 26/TPA. Mereka adalah bagian dari pasukan elit Eselon I yang diharapkan Maruarar bisa bekerja “cepat dan bebas korupsi.”
Azis Andriansyah dan Imran dilantik bersamaan dengan enam Pejabat Tinggi Madya (eselon I). Di antaranya Sekretaris Jenderal Kementerian PKP Didyk Choirul, Direktur Jenderal Kawasan Permukiman Kementerian PKP, Fitrah Nur, Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian PKP, Sri Haryati, selanjutnya Inspektur Jenderal Kementerian PKP, Heri Jerman.
Bersama juga dilantik Staf Ahli Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Industri dan Lingkungan Kementerian PKP, Tasdiyanto dan Staf Ahli Bidang Sistem Pembiayaan, Pencegahan Korupsi dan Pemberdayaan Masayarakat Kementerian PKP, Budi Permana.
Namun, kenyataannya? Di saat Kementerian PKP butuh tenaga ekstra untuk mengeksekusi ambisi besar sang Presiden, dua sosok ini justru memilih jadi penonton dari luar lapangan.
Apakah ada aroma tak sedap di Kementerian PKP yang mulai menyengat membuat tidak betah Azis Andriansyah dan Imran? Atau sudah sadar kalau target 3 juta rumah itu hanyalah fiksi ilmiah yang dipaksakan jadi program kerja di tangan pemimpin yang tidak tepat?
Maruarar Sirait awalnya bermimpi punya tim super yang bisa lari kencang tanpa nengok kanan-kiri. Tapi, jika satu per satu mulai angkat kaki, mungkin yang tersisa nanti hanyalah gedung kantor dan tumpukan berkas rencana yang isinya dongeng.
Kini, publik sedang menunggu siapa lagi pejabat yang bakal kirim pesan WhatsApp “pamit” minggu depan. (ful)
Reporter : Zahra







