Oleh : Jacob Ereste
JAKARTA |Go Indonesia.Id _ Perkembangan menarik dari Mukhtamar Nahdatul Ulama (NU) memasuki abad kedua perjalanan sejarah panjangnya, kata Junaidi Jamsari (Hatipena. com, 30 Agustus 2026) tidak akan diukur dari secanggih apa aplikasinya, melainkan dari seberapa dalam ia mampu menjaga “oase” spiritual di tengah gurun kompetisi kekuasan, seperti yang terjadi sejarang. Karena itu menjadi menarik menautkan ulasan diatas dengan laporan terbaru Husnu Mufid dari menasamadinahnews.com, 30 Agustus 2026, saat pelaksanaan pemilihan Ketua Tanfidziah dan Rois Am lewat AHWA yang berjudul “Tradisi Pemilihan Ketua Umum Tanfidziah Berubah Tadi Malam Pada Muktamar NU ke-35”.
Keputusan tradisi pemilihan Ketum Tanfidziah NU ini mengisyaratkan bisa terjadi ketegangan saat proses pemilihan dilakukan. Sebab mekanisme penunjukan terhadap peserta muktamar yang memiliki hak pilih 552 suara dengan 1 suara tidak sah. Padahal dari 552 suara tersebut 401 suara ditunjuk oleh AHWA. Rincian suara ini diperlukan ketika mekanisme musyawarah mufakat tidak dapat menghasilkan keputusan untuk menentukan Ketua Umum Tanfidziah dan Rois Am, maka pemilihan akan dilakukan dengan cara voting. Dan jauh sebelumnya dari kubu petahana telah menegaskan agar hasil voting tersebut dapat diterima oleh semua pihak untuk menentukan Ketua Umum Tanfidziah dan Rois Am NU Periode 2026-2031.
Paparan ini ditulis untuk memberi mengapresiasikan pada hasil Muktamar NU ke-35 ini agar dapat menjaga “oase” spiritual di dalam gesekan peradaban yang semakin jauh dari pesan-pesan langit agar tidak bertambah jauh terperosok dalam duniawi yang menyesatkan, utamanya bagi umat yang sangat memerlukan sosok panutan. Begitulah suara dan harapan dari seorang umat, NU mampu menjadi panutan serta menjaga “oase” spiritual yang amat sangat diperlukan dalam peradaban yang tengah terguncang, seperti sekarang.
Rania Zahra/ Jurnalis Go Indonesia







