TANJAB BARAT | Go Indonesia.Id –
Ditengah derasnya arus modernisasi yang kian menggeser tradisi, sosok sederhana di Desa Pematang Pauh ini tetap teguh pada jalannya. Seorang kakek yang akrab disapa Datuk masih setia membuat bubu, alat tangkap ikan tradisional, demi menyambung hidup sekaligus menjaga warisan leluhur.
Dengan tangan yang tak lagi muda, Datuk terus merajut anyaman demi anyaman menjadi bubu yang dikenal kuat dan tahan lama. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang telah ia jalani selama puluhan tahun.
“Kalau saya tidak bikin bubu, mau makan apa. Sedikit-sedikit yang penting ada buat hidup,” ujarnya dengan nada sederhana namun penuh makna.
Ditengah maraknya alat tangkap modern, bubu buatan Datuk masih memiliki tempat tersendiri, terutama bagi nelayan yang tetap mempertahankan cara-cara tradisional dalam mencari ikan. Kualitas dan ketahanan bubu buatannya menjadi alasan utama produk tersebut tetap diminati, meski tidak lagi sebanyak dulu.
Namun, perubahan zaman menjadi tantangan nyata. Minat masyarakat terhadap alat tangkap tradisional kian menurun, membuat usaha yang dijalani Datuk harus berjuang lebih keras untuk bertahan. Ia pun berharap masih ada nelayan yang mau menggunakan dan membeli hasil karyanya.
Kisah Datuk menjadi cermin kegigihan warga desa yang tak menyerah pada keadaan. Di balik kesederhanaannya, ia tidak hanya mencari nafkah, tetapi juga menjaga warisan budaya lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
Dukungan dari masyarakat dinilai sangat penting, baik melalui pembelian maupun perhatian terhadap produk tradisional seperti bubu. Dengan begitu, usaha kecil seperti yang dijalani Datuk dapat terus hidup dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Diusianya yang senja, Datuk tetap membuktikan bahwa semangat kerja keras dan kecintaan terhadap tradisi adalah kekuatan yang tak lekang oleh waktu.
REDAKSI







