DHARMASRAYA | Go Indonesia .id–Dugaan praktik penimbunan dan penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Solar untuk aktivitas tambang emas ilegal mencuat di wilayah Sitiung lima, Kabupaten Dharmasraya.
Seorang pria bernama Nowing disebut-sebut sebagai aktor utama yang mengendalikan pasokan BBM subsidi sekaligus terlibat langsung dalam aktivitas tambang ilegal tersebut.
Informasi yang dihimpun media ini menyebutkan, BBM subsidi tersebut diduga dibeli dari SPBU Pertamina, kemudian ditimbun dalam jumlah besar untuk disalurkan kepada para pelaku tambang emas ilegal yang beroperasi menggunakan mesin dompeng.
Tak hanya berperan sebagai pemasok, Nowing juga diduga merupakan pemain lama dalam aktivitas tambang emas ilegal di kawasan itu.
Bahkan, ia disebut memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan setoran yang diduga diberikan kepada oknum Aparat Penegak Hukum (APH) agar aktivitas tambang dapat berjalan tanpa hambatan.
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan adanya tumpukan BBM subsidi yang siap disalurkan ke lokasi-lokasi tambang ilegal. Aktivitas tersebut dinilai berlangsung secara terbuka dan telah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat setempat.
“Semua orang di sini tahu Nowing yang pegang. Urusan dompeng, termasuk minyak, dia pemasoknya,” ujar seorang warga Sitiung yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Warga lainnya juga mengungkapkan bahwa dugaan keterlibatan Nowing dalam aktivitas tambang ilegal bukanlah hal baru.
“Sejak dulu dia sudah main tambang di sini. Hampir semua orang kenal,” katanya. pada Jumat ( 6/2 2025)
Sorotan keras atas dugaan praktik tersebut datang dari LSM Pecinta Lingkungan. Ketua LSM tersebut, Yosep Maryanto, menilai aktivitas yang diduga dilakukan Nowing tidak dapat dipandang sebagai pelanggaran biasa, melainkan telah mengarah pada kejahatan lingkungan yang terorganisir.
“Ini bukan sekadar tambang ilegal. Jika ditambah dengan penyaluran BBM subsidi sebagai penopang utama operasi tambang, maka ini sudah menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan keselamatan publik,” tegas Yosep.
Ia menilai lemahnya pengawasan dari instansi terkait telah membuka ruang bagi praktik-praktik ilegal tersebut untuk terus berlangsung. Yosep mendesak Aparat Penegak Hukum, termasuk kepolisian, Pertamina, dan pemerintah daerah, agar segera turun tangan melakukan penyelidikan menyeluruh.
“Jangan menunggu ada korban jiwa atau kerusakan lingkungan yang lebih parah baru bertindak. Negara harus hadir untuk melindungi lingkungan dan masyarakat,” tambahnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Nowing belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Media ini juga masih berupaya mengonfirmasi Aparat Penegak Hukum dan instansi terkait guna memperoleh penjelasan lebih lanjut.
Reporter: Amat






