Fenomena Fatherless dan Dampaknya terhadap Cara Remaja Perempuan Mencari Perhatian dan Menjalin Hubungan

IMG 20260330 WA0060

TEBO | Go Indonesia.Id _Belakangan ini, istilah fatherless mulai sering dibahas, terutama di kalangan remaja. Fatherless adalah kondisi di mana seorang anak tumbuh tanpa peran ayah yang cukup, baik karena ayah tidak ada atau kurang terlibat dalam kehidupan anak.

Di Indonesia sendiri, fenomena ini sebenarnya cukup sering terjadi, tapi kadang masih dianggap hal biasa.(39/3/26).

Bacaan Lainnya

Advertisement

Padahal, peran ayah itu penting banget, apalagi untuk perkembangan anak perempuan. Ayah bukan cuma sebagai pencari nafkah, tapi juga sebagai sosok yang bisa memberi perhatian, contoh sikap, dan rasa aman. Dari sini sebenarnya sudah kelihatan kalau kurangnya peran ayah bisa berdampak ke banyak hal dalam kehidupan anak.

Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan kalau fenomena fatherless ini memang punya dampak yang nyata, terutama dalam kehidupan remaja perempuan.

Penelitian dari Universitas Negeri Jakarta menjelaskan bahwa anak yang tumbuh tanpa peran ayah yang cukup bisa mengalami masalah dalam perkembangan emosi dan kepercayaan diri.

Mereka cenderung lebih mudah merasa kurang dihargai dan kesulitan memahami diri sendiri.

Hal ini bisa memengaruhi cara mereka berperilaku, termasuk dalam berinteraksi dengan orang lain.

Selain itu, penelitian dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh juga menemukan bahwa remaja yang mengalami fatherless cenderung mengalami kesulitan dalam mengontrol emosi dan membangun hubungan sosial yang sehat.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa terlihat dari bagaimana mereka lebih mudah bergantung pada orang lain untuk mendapatkan perhatian.

Kalau dipikir-pikir, hal ini cukup masuk akal. Soalnya, sejak kecil mereka mungkin kurang mendapatkan perhatian dari sosok ayah, jadi saat remaja, kebutuhan itu masih ada dan akhirnya dicari di luar lingkungan keluarga.

Fenomena fatherless ini nggak bisa dianggap sepele. Masa remaja itu adalah masa di mana seseorang lagi butuh banget perhatian, arahan, dan juga rasa dihargai. Kalau dari keluarga, terutama dari ayah, hal itu kurang didapat, bisa jadi remaja akan mencarinya dari orang lain.

Hal ini bukan berarti semua remaja perempuan yang mengalami fatherless pasti akan berperilaku negatif. Tapi lebih ke arah mereka punya kebutuhan perhatian yang belum terpenuhi. Jadi, ketika ada orang yang memberi perhatian, mereka bisa jadi lebih mudah merasa nyaman atau bergantung.

Maka, di sinilah pentingnya peran lingkungan sekitar. Karena kalau tidak diarahkan dengan baik, remaja bisa saja salah dalam memilih hubungan atau pergaulan.

Untuk mengurangi dampak dari fenomena fatherless ini, peran keluarga tetap jadi hal yang paling penting. Meskipun ayah mungkin tidak selalu ada atau sibuk, setidaknya tetap perlu ada usaha untuk menjalin komunikasi dengan anak.

Selain itu, ibu dan anggota keluarga lain juga bisa membantu memberikan perhatian dan dukungan supaya anak tetap merasa dihargai dan tidak merasa sendiri. Lingkungan sekolah juga sebaiknya lebih peka, misalnya dengan memberikan bimbingan atau perhatian lebih kepada siswa yang membutuhkan.

Di sisi lain, remaja juga perlu belajar memahami diri sendiri dan tidak mudah bergantung pada orang lain hanya untuk mendapatkan perhatian, supaya mereka bisa membangun hubungan yang lebih sehat.

Fenomena fatherless memang nyata terjadi di Indonesia dan punya dampak yang cukup besar, terutama bagi remaja perempuan. Kurangnya peran ayah bisa memengaruhi cara berpikir, emosi, dan juga cara mereka menjalin hubungan dengan orang lain.

Karena itu, penting bagi semua pihak, baik keluarga maupun lingkungan sekitar, untuk lebih peduli terhadap kondisi ini.

Dengan adanya perhatian dan dukungan yang cukup, remaja tetap bisa tumbuh dengan baik meskipun mengalami kondisi fatherless.

Kontributor : -Reza Saputra ,Halida
Penulis : Ela Anjani ( Siswa SMAN 3 TEBO
kelas : Xll F4 )


Advertisement

Pos terkait