Gunung Gamkonora Terbakar Sejak Agustus, Penanganan Dipertanyakan

IMG 20261004 WA0166 scaled

HALMAHERA BARAT | Go Indonesia.id  — Kebakaran di kawasan ekosistem Gunung Gamkonora, Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, mulai memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan hutan dan aktivitas warga di sekitar kawasan tersebut.

Ketua Komisi Riset dan Pengembangan Kerukunan Keluarga Suku Gamkonora (KKSG) Provinsi Maluku Utara, Hasrillah Tari, menilai penanganan kebakaran membutuhkan langkah yang lebih terukur. Terlebih, medan di kawasan Gunung Gamkonora relatif sulit dijangkau melalui jalur darat.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Menurut Hasrillah, api telah terlihat di wilayah Ibu Selatan sejak akhir Agustus 2026. Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian lebih luas setelah kepulan asap dan titik api di kawasan puncak Gamkonora terlihat pada September.

“Api di wilayah Ibu Selatan sudah terjadi sejak akhir Agustus, kemudian baru viral pada pertengahan September di kawasan puncak Gamkonora. Tapi sejauh ini belum terlihat langkah penanganan yang jelas,” kata Hasrillah.

Ia mengatakan kebakaran tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan munculnya titik api. Ada ancaman terhadap vegetasi hutan, perkebunan warga, hingga keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan.

Karena itu, menurut dia, penanganan perlu diawali dengan pemetaan kondisi lapangan secara menyeluruh. Pemerintah perlu mengetahui lokasi titik api, luasan kawasan yang terdampak, arah pergerakan api, serta jenis vegetasi yang terbakar.

“Ini bukan sekadar persoalan api, tetapi menyangkut keberlangsungan ekosistem, keselamatan masyarakat, perkebunan dan tanaman warga, serta masa depan ekosistem hutan Gamkonora,” ujarnya, Minggu (4/10/2026).

Hasrillah berpandangan kondisi geografis Gunung Gamkonora juga perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan metode pemadaman. Jika titik kebakaran berada di lokasi yang sulit dijangkau tim dari darat, opsi pemadaman melalui udara dinilai perlu dipertimbangkan.

Menurutnya, respons terhadap kebakaran hutan di kawasan tersebut membutuhkan koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, instansi teknis, aparat, serta pihak yang memiliki kemampuan dalam penanganan kebakaran kawasan hutan.

“Kalau lokasi api sulit dijangkau dengan cara konvensional, maka harus ada alternatif penanganan. Salah satunya melalui udara,” katanya.

Ia berharap kondisi kebakaran di Gunung Gamkonora tidak dibiarkan berkembang menjadi kerusakan ekologis yang lebih luas. Penanganan sejak dini dinilai penting agar api tidak menjalar ke kawasan hutan dan lahan masyarakat di sekitarnya (*).

Mirsa | Jurnalis Go Indonesia


Advertisement

Pos terkait