Jangan Teriak Anti Jejerasan di Jalan ,tetapi memelihara Kekerasan di dalam Organisasi

IMG 20261008 WA0192

Opini | Media Goindonesia

JAKARTAΒ  | Go Indonesia.id_sebuah ironi yang patut dipertanyakan dalam kehidupan sebagian organisasi mahasiswa hari ini.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Di kampus maupun di ruang publik, suara penolakan terhadap militerisme, represi, kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia (HAM), dan rasisme terdengar lantang. Mahasiswa tampil sebagai kelompok yang kritis, berani menyuarakan keadilan, serta berada di garis depan dalam berbagai gerakan sosial.

Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah nilai-nilai yang diperjuangkan di ruang publik tersebut benar-benar diterapkan di dalam organisasi sendiri?

Sebab, tidak jarang muncul kritik terhadap praktik penerimaan anggota baru atau kegiatan internal organisasi yang berlangsung sangat keras, berhari-hari, penuh tekanan, bahkan berpotensi mengarah pada penghinaan, perundungan, atau tindakan yang merendahkan martabat peserta.

Jika benar praktik semacam itu masih terjadi, maka ada persoalan serius yang harus dibicarakan secara terbuka.

Bagaimana mungkin seseorang menolak kekerasan ketika dilakukan oleh aparat atau kelompok lain, tetapi pada saat yang sama membiarkan kekerasan terjadi terhadap junior, anggota baru, atau sesama mahasiswa?

Kekerasan tetaplah kekerasan, siapa pun pelakunya dan apa pun alasan yang digunakan.

KADERISASI BUKAN RUANG UNTUK MELAMPIASKAN KEKUASAAN

Kaderisasi pada dasarnya merupakan proses pendidikan organisasi. Tujuannya adalah mengenalkan nilai, membangun karakter, menanamkan tanggung jawab, serta mempersiapkan generasi penerus organisasi.

Kaderisasi tidak seharusnya berubah menjadi ruang untuk mempertontonkan siapa yang lebih berkuasa.

Kalimat seperti β€œkami dulu juga diperlakukan begitu” tidak dapat menjadi pembenaran untuk mengulangi pola yang sama kepada generasi berikutnya.

Sebuah tradisi tidak otomatis menjadi benar hanya karena telah dilakukan selama bertahun-tahun.

Justru organisasi yang sehat harus berani mengevaluasi tradisi yang sudah tidak relevan, terutama jika tradisi tersebut berpotensi menimbulkan ketakutan, trauma, penghinaan, cedera, atau merusak hubungan antarsesama anggota.

Penderitaan yang pernah dialami seseorang bukan alasan untuk mewariskan penderitaan itu kepada orang lain.

JANGAN SAMPAI β€œPENDIDIKAN” MENJADI PEMBUNGKUS KEKERASAN

Kegiatan yang berlangsung keras sering kali dibungkus dengan istilah disiplin, mentalitas, solidaritas, loyalitas, atau pembentukan karakter.

Tetapi istilah-istilah tersebut tidak boleh digunakan untuk menghapus batas antara pendidikan dan kekerasan.

Mendidik seseorang untuk disiplin tidak membutuhkan penghinaan.

Membangun mental tidak membutuhkan penyiksaan.

Membentuk solidaritas tidak membutuhkan perundungan.

Menanamkan loyalitas tidak membutuhkan rasa takut.

Organisasi mahasiswa justru memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa pembentukan karakter dapat dilakukan melalui cara yang bermartabat, intelektual, demokratis, dan manusiawi.

KONSISTENSI ADALAH UJIAN SEBENARNYA

Perjuangan HAM bukan hanya tentang bagaimana kita mengkritik pihak lain.

HAM juga menjadi cermin untuk melihat bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita.

Menolak rasisme di jalan, tetapi melakukan penghinaan terhadap sesama anggota, adalah kontradiksi.

Menolak represivitas aparat, tetapi menggunakan tekanan berlebihan terhadap anggota baru, juga merupakan kontradiksi.

Menolak militerisme, tetapi menciptakan sistem pembinaan yang dibangun atas ketakutan dan kepatuhan mutlak, patut dipertanyakan secara serius.

Perjuangan nilai tidak boleh berhenti pada slogan. Ia harus dimulai dari lingkungan sendiri.

Karena itu, organisasi mahasiswa perlu berani melakukan evaluasi terhadap seluruh bentuk kaderisasi dan penerimaan anggota baru. Jika terdapat praktik yang berpotensi merendahkan martabat manusia, maka praktik tersebut harus dihentikan dan diganti dengan model pembinaan yang lebih edukatif dan konstruktif.

Kritik ini bukan seruan untuk menghapus disiplin atau ketegasan dalam organisasi. Sebaliknya, disiplin tetap penting. Tetapi disiplin harus dibangun dengan kesadaran, bukan ketakutan.

Organisasi yang kuat bukan organisasi yang mampu membuat anggotanya takut.

Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu membentuk anggotanya menjadi manusia yang berani, kritis, bertanggung jawab, dan tetap menghormati martabat manusia lainnya.

Pada akhirnya, keberanian terbesar bukan hanya berteriak menentang kekerasan ketika dilakukan oleh orang lain.

Keberanian terbesar adalah berani mengoreksi kekerasan ketika ia tumbuh di dalam rumah sendiri.

Agustinus Selegani
Jurnalis/Kaperwil Media Goindonesia
Wilayah Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah


Advertisement

Pos terkait