LINGGA | Go Indonesia.Id _Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di wilayah Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, dalam dua hari terakhir memicu lumpuhnya aktivitas ekonomi masyarakat. Nelayan kesulitan melaut, pengemudi transportasi umum terhambat beroperasi, sementara pedagang kecil mengaku pendapatan menurun akibat sulitnya mendapatkan bahan bakar.
Krisis ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Pasalnya, secara administratif Dabo Singkep tercatat memiliki kuota Pertalite mencapai 271.000 liter, namun di lapangan justru terjadi kekosongan stok hampir menyeluruh. Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya ketimpangan distribusi yang belum terjawab secara terbuka.
Pemerintah Kecamatan Singkep melalui Kasi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang), Eliati, turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah titik distribusi. Dari penelusuran sementara, diketahui salah satu penyebab utama kelangkaan berasal dari tersendatnya pasokan kapal pengangkut BBM yang tertahan antrean pengisian di wilayah Tanjung Uban.
Akibat antrean panjang itu, distribusi ke Dabo Singkep mengalami keterlambatan dan stok baru diperkirakan normal dalam satu hingga dua hari ke depan setelah kapal berhasil bersandar. Namun, hasil sidak juga menemukan persoalan lain yang dinilai lebih serius, yakni tidak maksimalnya penyerapan kuota oleh sejumlah kios pengecer resmi.
Dalam temuan lapangan, terdapat kios yang hanya mengambil 6.000 liter dari total alokasi 10.000 liter yang telah direkomendasikan. Ketidaksesuaian antara kuota yang tersedia dan jumlah yang ditebus ini memunculkan pertanyaan: ke mana sisa kuota tersebut dialihkan?
Sementara itu, hampir seluruh kios pengecer di Dabo Singkep dilaporkan kosong total. Stok terbatas yang tersisa hanya diprioritaskan untuk kendaraan darurat seperti ambulans dan layanan kesehatan.
Di tengah situasi ini, spekulasi masyarakat semakin berkembang. Warga menduga adanya praktik βpermainan stokβ, penimbunan, atau pengalihan distribusi oleh oknum tertentu, mengingat selisih antara data administratif dan realisasi fisik disebut mencapai ratusan ribu liter.
Sejumlah tokoh masyarakat mendesak pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum dan pihak terkait untuk membuka data distribusi secara transparan, mulai dari kuota masuk, penyaluran ke kios, hingga penjualan akhir ke konsumen. Mereka juga meminta tindakan tegas terhadap pemilik kios yang tidak menyerap kuota penuh atau terbukti menyalahgunakan alokasi BBM subsidi.
Jika tidak segera dibenahi, kelangkaan Pertalite di Dabo Singkep dikhawatirkan bukan lagi sekadar masalah keterlambatan kapal, melainkan indikasi lemahnya pengawasan distribusi hingga ke titik akhir. Pemerintah kini dituntut memastikan subsidi negara benar-benar sampai ke masyarakat yang berhak, bukan bocor ke pasar gelap.
Reporter: M Johari






