Oleh : Abdul Aziz Nasution (Wakil Ketua DPW IWO Indonesia Kepri )
TANJUNGPINANG | Go Indonesia.id_ Masa depan Indonesia di era globalisasi tidak semata ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau kemajuan teknologi, tetapi oleh kualitas sumber daya manusia yang dibentuk sejak usia dini melalui pendidikan yang adil dan berkelanjutan. jumat(6/2/26).
Anak-anak Indonesia hari ini adalah aktor utama yang kelak menentukan posisi bangsa di tengah persaingan global yang semakin kompleks.
Globalisasi membawa peluang sekaligus tantangan. Arus informasi yang cepat, perkembangan teknologi digital, serta persaingan tenaga kerja lintas negara menuntut generasi muda memiliki kompetensi abad ke-21, seperti kemampuan berpikir kritis, kreativitas, literasi digital, dan karakter yang kuat.
Namun, kesiapan menghadapi tantangan global tersebut tidak dapat dilepaskan dari realitas ketimpangan pendidikan yang masih terjadi antarwilayah di Indonesia.
Di daerah-daerah kepulauan dan terpencil, akses terhadap pendidikan bermutu masih menjadi persoalan mendasar.
Keterbatasan infrastruktur, tenaga pendidik, dan sarana pembelajaran berpotensi menciptakan jurang ketertinggalan yang semakin lebar jika tidak ditangani secara serius.
Padahal, anak-anak di daerah memiliki potensi yang sama besarnya untuk berkontribusi dalam percaturan global, sepanjang mereka mendapatkan kesempatan belajar yang setara.
Dalam konteks ini, inisiatif pendidikan berbasis komunitas menjadi fondasi penting dalam menyiapkan masa depan anak bangsa.
Sekolah dan ruang belajar yang tumbuh dari partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa pendidikan dapat bertahan dan berkembang meski dalam keterbatasan.
Model pendidikan seperti ini menanamkan nilai kemandirian, gotong royong, serta kepedulian sosial karakter yang justru semakin relevan di tengah kompetisi global yang cenderung individualistik.
Namun demikian, ketahanan pendidikan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada komunitas.
Negara memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan bahwa seluruh anak bangsa, tanpa kecuali, memiliki akses terhadap pendidikan yang bermutu dan relevan dengan tantangan global.
Kebijakan pendidikan ke depan harus mampu menjembatani kesenjangan wilayah, memperkuat kapasitas pendidik, serta memastikan kurikulum yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan akar nilai kebangsaan.
Pendidikan masa depan tidak hanya bertujuan mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia Indonesia yang berdaya saing global sekaligus berkarakter nasional.
Anak bangsa perlu dibekali kemampuan beradaptasi, etika, dan kesadaran identitas, agar tidak tercerabut dari nilai-nilai kebudayaan di tengah derasnya arus globalisasi.
Editorial ini menegaskan bahwa investasi terbesar bangsa bukan pada infrastruktur fisik semata, melainkan pada manusia dan sistem pendidikan yang memanusiakan.
Masa depan Indonesia di panggung global sangat ditentukan oleh keberanian hari ini dalam membangun pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi jangka panjang.
Menyiapkan anak bangsa menghadapi era globalisasi berarti memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal karena faktor geografis, sosial, atau ekonomi.
Inilah agenda bersama yang menuntut komitmen negara, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
Redaksi


