Sedanau ke Hongkong: Ikan Kerapu dan Napoleon Pernah Angkat Ekonomi Natuna, Kini Terhambat Kapal Tak Masuk

IMG 20250626 WA0065

SEDANAU ,NATUNA | Go Indonesia.idโ€“ Pulau Sedanau di Kecamatan Bunguran Barat pernah menjadi pusat denyut ekonomi kelautan Natuna. Ratusan keramba jaring apung (KJA) milik masyarakat membudidayakan ikan kerapu dan napoleon hidup yang rutin diekspor ke Hongkong.

Namun kini, geliat usaha itu mulai meredup. Kapal pengangkut ikan hidup dari luar negeri sudah lama tidak lagi masuk ke perairan Natuna, termasuk ke pelabuhan Sedanau.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Ekspor ikan hidup dari Natuna pernah mencapai masa kejayaan antara tahun 2005 hingga 2024. Saat itu, masyarakat dari berbagai daerah seperti Midai, Serasan, Subi, Pulau Tiga, hingga Kelarik aktif memasok ikan hasil budidaya dan tangkapan mereka ke pengepul yang berpusat di Sedanau.

> โ€œKami dulu bisa kirim kerapu dan napoleon hidup langsung ke Hongkong. Begitu kapal masuk ke Sedanau, ekonomi langsung bergerak. Harga ikan bagus, nelayan senang, toko-toko ramai,โ€ ujar Pak Joko, tokoh nelayan di Sedanau, Selasa (25/6).

Ikan kerapu tikus, kerapu macan, dan napoleon menjadi komoditas unggulan karena sangat diminati pasar Hongkong. Ikan-ikan tersebut dibeli dengan harga tinggi dan langsung diangkut menggunakan kapal beroksigen khusus agar tetap hidup hingga ke tujuan.

Sedanau, Sentra Ikan Hidup Natuna

Pulau Sedanau tak hanya dikenal sebagai โ€œkampung terapungโ€, tetapi juga sebagai sentra utama ekspor ikan hidup di Natuna. Nelayan dan pembudidaya dari pulau-pulau sekitar mengandalkan fasilitas keramba dan pelabuhan di Sedanau untuk aktivitas ekspor.

> โ€œKami dari Midai atau Subi biasa kirim hasil panen ke Sedanau. Di sana fasilitas lebih lengkap, jadi memang pusatnya,โ€ ungkap seorang pembudidaya asal Subi.

Namun situasi itu kini berubah drastis. Sudah lebih dari tiga bulan kapal dari Hongkong tidak bisa lagi masuk ke Natuna. Ketidakhadiran kapal ekspor menyebabkan rantai distribusi ikan hidup terputus.

Dampak ke Ekonomi Lokal

Akibat terhentinya ekspor, pembudidaya mengalami kesulitan menjual ikan dengan harga layak. Banyak keramba kini kosong atau terbengkalai karena biaya operasional tidak sebanding dengan hasil.

Perputaran uang di Sedanau dan sekitarnya pun melambat drastis. Toko-toko kecil sepi pembeli, dan ekonomi rumah tangga nelayan terpukul.

Harapan dari Pesisir

Masyarakat pesisir berharap pemerintah kembali membuka jalur ekspor langsung dari Natuna. Langkah ini diyakini akan memulihkan ekonomi perbatasan dan menyelamatkan usaha budidaya ikan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

> โ€œKami tidak minta yang muluk-muluk. Mohon bantu kami agar ikan hidup ini kembali laku, agar jadi penyangga hidup keluarga kami. Itu sudah luar biasa,โ€ harap Pak Bujang, pembudidaya lainnya.

Cerita kerapu dan napoleon dari Natuna pernah menjadi kisah sukses ekonomi pesisir Indonesia.

Dari Sedanau hingga Midai, dari Subi hingga Serasan, masyarakat menggantungkan hidup dari laut. Namun tanpa akses ekspor langsung, kejayaan itu kini hanya tinggal kenangan.

Sudah saatnya perhatian serius diberikan agar kekayaan laut Natuna kembali menjadi tumpuan ekonomi perbatasan.

Reporter : Baharullazi


Advertisement

Pos terkait