Tradisi Tahunan Dihapus, Natuna Kehilangan Panggung Generasi Qur’ani?

IMG 20260224 WA0117

NATUNA | Go Indonesia.id – Kegiatan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) tingkat kecamatan dan kabupaten di Natuna dipastikan tidak dilaksanakan pada tahun ini. Kepastian tersebut disampaikan Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna melalui Kabag Kesra, Sudirman, saat diwawancarai melalui sambungan telepon pada 24 Februari 2026.

Dalam keterangannya, Sudirman menjelaskan bahwa peniadaan MTQ disebabkan oleh keterbatasan anggaran daerah. Sebagai alternatif, pemerintah daerah hanya meminta masing-masing kecamatan untuk mengirimkan “bibit” peserta melalui video. Rekaman tersebut nantinya akan diseleksi untuk menentukan perwakilan Natuna di tingkat Provinsi Kepulauan Riau.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Kebijakan ini memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Pasalnya, MTQ selama ini bukan hanya ajang perlombaan membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi panggung pembinaan generasi Qur’ani, ajang silaturahmi antar-kecamatan, serta simbol syiar Islam di daerah perbatasan tersebut.

Sejumlah tokoh masyarakat menilai, jika alasan anggaran menjadi faktor utama, maka perlu ada transparansi serta kejelasan skala prioritas dari pemerintah daerah. MTQ dinilai sebagai agenda rutin yang memiliki dampak sosial dan spiritual luas, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan.

MTQ itu bukan hanya soal lomba, tetapi pembinaan dan semangat keagamaan masyarakat. Kalau ditiadakan, tentu ada kekhawatiran pembinaan itu ikut melemah,” ungkap salah seorang warga.

Sebagian masyarakat juga mempertanyakan apakah kebijakan seleksi melalui video mampu menggantikan esensi pelaksanaan MTQ secara langsung, yang selama ini melibatkan dewan hakim, pelatihan intensif, serta dukungan moral dari masyarakat luas.

Hingga berita ini diterbitkan, media masih berupaya meminta tanggapan resmi dari Majelis Ulama Indonesia dan Lembaga Adat Melayu Natuna terkait kebijakan tersebut. Media akan menerbitkan berita lanjutan guna menghadirkan pandangan berimbang dari berbagai pihak.

Ke depan, masyarakat berharap pemerintah daerah dapat mencari solusi agar tradisi tahunan ini tetap berjalan, meskipun dengan konsep yang lebih sederhana, sehingga Natuna tidak kehilangan panggung bagi generasi Qur’ani yang selama ini menjadi kebanggaan daerah.

Reporter : Baharullazi


Advertisement

Pos terkait