MANOKWARI | Go Indonesia.id — Sebuah malam yang tidak biasa menyapa Manokwari City Mall, Kamis, 24 Juli 2025. Di tengah hiruk-pikuk kota dan denyut harapan masyarakat Papua Barat, Kodam XVIII/Kasuari menggelar sebuah perhelatan yang menyatukan layar lebar, sentuhan kemanusiaan, dan semangat kebangsaan dalam satu napas.
Layar besar memutar film “Believe – Takdir, Mimpi, dan Keberanian”, disaksikan ratusan pasang mata dari berbagai latar usia dan profesi. Namun lebih dari sekadar tontonan, film ini menjadi cermin perenungan bagi rakyat dan tentara, terutama generasi muda Papua. Bersama nobar ini, digelar pula bakti kesehatan gratis dan panggung budaya, menjadikan malam itu sebagai panggung kebersamaan yang membumi.
Dari Layar ke Hati Rakyat
Disutradarai dengan napas yang dalam dan emosional, Believe mengisahkan perjalanan hidup Agus, seorang anak prajurit yang dibesarkan dalam bayang trauma dan kemiskinan emosional. Ditinggal sang ibu dan tumbuh tanpa arah, Agus menemukan makna hidup setelah mengetahui pengorbanan sang ayah, Dedi, seorang prajurit yang gugur dalam Operasi Seroja.
Agus akhirnya menapaki jalan sang ayah — menjadi tentara — bukan semata untuk berperang, melainkan untuk mengerti, berdamai, dan mengabdi. Melalui konflik batin dan pertemuan dengan masa lalu ayahnya, film ini mengajak penonton menyelami sisi kemanusiaan seorang prajurit: bahwa di balik seragam dan senjata, tersimpan luka, cinta, dan harapan.
Film ini diangkat dari biografi Jenderal TNI Agus Subiyanto bertajuk Believe – Faith, Dream and Courage, karya Valent Hartadi. Tayang perdana di Manokwari, film ini justru tak hanya membuka babak sinema, tapi membuka pintu hati.
Simbol Cinta Tanpa Sekat
Pangdam XVIII/Kasuari, Mayor Jenderal TNI Jimmy Ramoz Manalu, S.Hub.Int., M.H.I., yang hadir langsung dalam acara itu bersama unsur Forkopimda Papua Barat, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan.
> “Ini adalah bentuk cinta dan tanggung jawab TNI kepada rakyat. Kami hadir bukan hanya sebagai penjaga kedaulatan, tapi sebagai sahabat rakyat,” ujarnya.
Bersamaan dengan pemutaran film, digelar pula layanan kesehatan gratis: pemeriksaan umum, donor darah, pemeriksaan gigi, EKG, cek tekanan darah, hingga tes laboratorium seperti gula darah, kolesterol, dan asam urat. Semua dibuka tanpa syarat, tanpa batas.
Di luar auditorium, panggung budaya menghadirkan tarian-tarian khas Papua yang memukau. Musik, warna, dan gerakan menjadi bahasa universal yang menyatukan penonton, prajurit, dan rakyat dalam simpul kebhinekaan.
Sebagai penutup kegiatan, masyarakat menerima bingkisan sembako dari Kodam XVIII/Kasuari. Sentuhan yang sederhana, namun menggugah, bahwa negara tidak hanya hadir dalam instruksi dan apel, tetapi juga dalam bentuk pelukan dan penguatan di tengah kebutuhan sehari-hari.
Harapan dari Tanah Cenderawasih
Ibu Irene Manibuy, Ketua BP3OKP Papua Barat, tidak bisa menyembunyikan rasa harunya.
> “Film ini adalah cermin. Anak-anak Papua bisa bercermin dan melihat masa depan. Mereka bisa jadi bagian dari garda terdepan bangsa. Ini tentang cinta tanah air dan pendidikan,” ungkapnya lantang.
Sementara itu, Wakapolda Papua Barat, Brigjen Pol Yosi Muhamarta, menyebut film ini sebagai jembatan rasa.
> “Pesan moralnya dalam. Prajurit berjuang bukan hanya untuk negara, tapi juga untuk keluarga dan nilai-nilai kemanusiaan. Ini film yang menyentuh,” tuturnya.
Tak ketinggalan, Ismael Sirfefa, salah satu tokoh masyarakat, menyambut film ini sebagai ruang dialog antar generasi.
> “Saya teringat ayah saya yang dulu ikut memperjuangkan Papua dalam bingkai NKRI. Kini anak-anak muda bisa melanjutkan itu, bukan hanya lewat senjata, tapi lewat prestasi sebagai ASN, TNI-Polri, atau peran lainnya,” ujarnya.
Film Believe sendiri tidak hanya menggugah di dalam negeri. Ia telah menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan Best Director pada ajang Montreal International Film Festival 2025 di Kanada. Sebuah capaian yang menegaskan bahwa kisah dari tanah air bisa menggema ke panggung dunia.
Papua: Jiwa di Ufuk Timur
Melalui kegiatan ini, Kodam XVIII/Kasuari menegaskan bahwa kekuatan sejati bangsa tidak hanya dibangun dari senjata dan strategi, tapi dari hati yang peduli, telinga yang mendengar, dan tangan yang rela menolong.
Papua bukan sekadar wilayah di ujung peta, melainkan jiwa yang menyatu dalam nadi Indonesia. Di ufuk timur itulah cahaya kebersamaan disulam, dalam balutan keberanian, cinta tanah air, dan pengabdian yang tulus.
Malam itu, di Manokwari, film, kesehatan, dan budaya menyatu. Dan Indonesia, sekali lagi, menemukan dirinya — dalam pelukan rakyat dan prajurit di Tanah Papua.
Reporter : Baharullazi