BATAM | Go Indonesia.id-Label bandara internasional yang disematkan pada Bandara Hang Nadim Batam kini patut dipertanyakan, bahkan layak dipermalukan.
Pantauan langsung Go Indonesia pasca libur Tahun Baru 2025 menemukan fakta telanjang: terminal penjemputan penumpang tanpa atap, membuat penumpang dan penjemput basah kuyup saat hujan turun.senin (29/12/25)
Sungguh ironis dan tidak masuk akal. Di saat bandara-bandara internasional berlomba meningkatkan kenyamanan dan keselamatan penumpang, Hang Nadim justru gagal menyediakan fasilitas paling mendasar: pelindung dari hujan.
Yang lebih menyakitkan, atap justru tersedia di jalur khusus taksi—seolah kenyamanan publik luas bukanlah prioritas.
Pemandangan penumpang yang baru mendarat termasuk anak-anak, orang tua, hingga lansia berlarian kehujanan di area penjemputan adalah tamparan keras bagi wajah pengelola bandara.
Ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan buruknya tata kelola, perencanaan, dan kepekaan terhadap pelayanan publik.
Bagaimana mungkin sebuah bandara yang menjadi pintu gerbang internasional Indonesia di wilayah perbatasan tak mampu menyediakan atap sederhana?
Apakah pengelola bandara bekerja tanpa turun ke lapangan? Ataukah keluhan penumpang memang tidak pernah dianggap penting?
Kondisi ini bukan hanya memalukan, tetapi juga merusak citra Batam dan Indonesia di mata penumpang domestik maupun internasional.
Jika hujan saja tidak bisa “diantisipasi”, publik berhak ragu terhadap kemampuan pengelola dalam menangani persoalan yang lebih besar.
Sudah saatnya pihak pengelola dan pemangku kebijakan berhenti bersembunyi di balik nama besar “internasional”. Tanpa fasilitas dasar yang layak, status tersebut hanyalah slogan kosong sementara penumpang terus menjadi korban kelalaian.
Editor: Go Indonesia







