NATUNA | Go Indonesia.id_ Rencana proyek reklamasi atau penimbunan laut untuk pembangunan Pasar Jepang menimbulkan kekhawatiran di kalangan nelayan kecil dan masyarakat pesisir. Mereka menilai, jika pengerjaan proyek tidak dilakukan secara hati-hati, lumpur penimbunan berpotensi mencemari kawasan berkarang yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian tambahan warga.
Kawasan berkarang tersebut selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk mencari ikan, udang, dan kepiting, baik pada siang hari maupun saat air laut surut di malam hari. Aktivitas ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir setempat.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, masyarakat pada dasarnya mendukung pembangunan Pasar Jepang karena diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, ia berharap para pemangku kebijakan dan pihak kontraktor benar-benar memperhatikan dampak lingkungan laut.
Kami mendukung proyek ini, tapi kami berharap laut kami tidak terdampak lumpur saat penimbunan. Banyak masyarakat tempatan yang biasa mencari udang dan kepiting di kawasan berkarang itu,โ ujarnya saat diwawancarai media, Sabtu (1/2/2026).
Warga lainnya menambahkan, di lokasi tersebut terdapat tradisi mencari hasil laut pada malam hari saat air surut yang oleh masyarakat setempat disebut โmenyuluhโ atau โAmiโ, yakni aktivitas menyusuri kawasan berkarang dengan menggunakan lampu senter untuk mencari udang dan kepiting.
Kalau malam dan air surut, kami biasa menyuluh (Ami). Itu tradisi warga sejak dulu, pakai lampu senter untuk mencari udang dan kepiting di karang. Dari situ kami dapat tambahan penghasilan,โ katanya.
Menurut warga, aktivitas menyuluh tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga merupakan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Mereka khawatir, jika lumpur penimbunan menyebar dan menutup karang di luar area reklamasi, aktivitas tersebut akan terganggu.
Warga menegaskan, pelaksanaan reklamasi harus dilakukan sesuai dengan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang telah disusun, termasuk pengendalian sebaran lumpur agar tidak merusak kawasan laut di luar area penimbunan.
Kami tidak menolak pembangunan. Kami hanya berharap pelaksanaannya benar-benar sesuai AMDAL, supaya lingkungan laut tetap terjaga dan kami masih bisa mencari nafkah seperti biasa,โ tutupnya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama pihak pelaksana proyek dapat melakukan pengawasan ketat agar pembangunan Pasar Jepang berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan laut dan keberlangsungan mata pencaharian nelayan kecil.
Reporter : Baharullazi







