BATAM | Go Indonesia.id _Datok H. Machmur Bin Ismail bukanlah sosok asing di tengah dinamika perjuangan masyarakat kampung tua di Kota Batam, jumat (3/4/26).
Di balik pesatnya pembangunan dan ekspansi industri, almarhum dikenal sebagai figur yang konsisten berdiri di garis depan, memperjuangkan hak-hak masyarakat tempatan yang kerap terpinggirkan.
Sejumlah penelusuran dan keterangan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa perjuangan almarhum telah berlangsung sejak awal geliat pembangunan Batam.
Ia menjadi salah satu tokoh yang vokal dalam mempertahankan eksistensi kampung tua, terutama dalam menghadapi persoalan legalitas lahan, relokasi, hingga ketidakpastian status hunian warga.
Dalam berbagai momentum, Datok Machmur tak hanya hadir sebagai simbol, tetapi juga sebagai penggerak.
Ia aktif mengorganisir warga, menjembatani komunikasi dengan pihak terkait, hingga menyuarakan aspirasi masyarakat ke tingkat yang lebih tinggi.
Sikapnya yang tegas namun tetap mengedepankan musyawarah menjadikannya dihormati lintas kalangan.
Salah satu tokoh muda melayu, Udin Pelor, mengaku terinspirasi oleh konsistensi perjuangan almarhum.
“Beliau adalah contoh nyata pejuang kampung tua. Tidak pernah lelah memperjuangkan hak masyarakat, meski tantangan datang silih berganti.
Semangat beliau menjadi inspirasi bagi kami untuk terus melanjutkan perjuangan ini,” ujarnya.
Namun di balik kiprahnya, sejumlah pihak menilai perjuangan tokoh-tokoh kampung tua seperti Datok Machmur sering kali belum mendapatkan perhatian maksimal.
Persoalan kampung tua di Batam hingga kini masih menyisakan berbagai pertanyaan, mulai dari kepastian hukum hingga perlindungan hak masyarakat lokal di tengah arus investasi besar.
Kepergian Datok H. Machmur Bin Ismail pada 2 April 2026 menjadi kehilangan besar. Tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi gerakan sosial masyarakat kampung tua yang selama ini ia kawal.
Warisan perjuangannya kini menjadi tantangan bagi generasi penerus untuk terus menjaga hak dan identitas masyarakat tempatan di Kota Batam.
Apakah semangat perjuangan itu akan terus hidup, atau justru meredup seiring waktu menjadi pertanyaan yang kini mengemuka di tengah masyarakat.
Redaksi: Go Indonesia







