DENPASAR | Go Indonesia.id- Gubernur Bali Wayan Koster akan merayakan Tumpek Krulut dengan menggelar kegiatan berbagi kuliner gratis melalui 15 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal yang tersebar di sejumlah wilayah Bali, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk penerapan nilai kasih sayang yang terkandung dalam Tumpek Krulut. Masyarakat dapat menikmati beragam sajian, mulai dari kuliner tradisional seperti babi guling, lawar, dan nasi jinggo hingga makanan modern serta produk kedai kopi.
Founder and Chairman Mahardhika Institute, I Putu Eka Mahardhika, menilai kegiatan itu tidak hanya memberikan makanan gratis kepada masyarakat. Pelibatan 15 UMKM juga menjadi ruang promosi bagi produk lokal sekaligus mendorong perputaran ekonomi rakyat.
βTradisi menjadi akar, kreativitas menjadi penggerak, dan UMKM menjadi bagian penting dari denyut ekonomi masyarakat Bali,β kata Eka.
Menurutnya, pergerakan UMKM kuliner dapat menciptakan dampak ekonomi berantai. Aktivitas tersebut tidak hanya menguntungkan pemilik usaha, tetapi juga petani, peternak, nelayan, pedagang pasar, pekerja, hingga pelaku usaha pendukung lainnya.
Data tahun 2025 yang disampaikan Mahardhika Institute mencatat terdapat 448.734 UMKM di Bali. Sementara itu, sektor penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman tumbuh sebesar 10,25 persen.
Eka mengatakan kuliner Bali tidak boleh hanya dipandang sebagai warisan budaya masa lalu. Kekayaan kuliner lokal juga memiliki potensi menjadi salah satu kekuatan ekonomi Bali pada masa mendatang.
Karena itu, keberpihakan kepada UMKM dinilai tidak cukup dilakukan melalui ajakan membeli produk lokal. Pemerintah juga perlu menyediakan akses pasar, ruang promosi, dan momentum yang mempertemukan produk UMKM dengan masyarakat.
Kegiatan berbagi kuliner saat Tumpek Krulut tersebut diharapkan dapat memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap makanan lokal. Agenda budaya juga dinilai dapat memberikan manfaat sosial dan ekonomi tanpa kehilangan nilai filosofisnya.
βKasih sayang tidak berhenti pada ucapan atau simbol seremonial, tetapi harus hadir melalui tindakan yang memberikan manfaat kepada masyarakat,β ujarnya.
Eka menambahkan, mencintai Bali bukan hanya dilakukan dengan menjaga adat dan budaya, tetapi juga dengan menghidupkan ekonomi masyarakatnya.
βTumpek Krulut bukan sekadar tentang rasa dalam makanan, tetapi juga rasa peduli kepada sesama dan keberpihakan terhadap ekonomi lokal,β pungkasnya.
Kadek/Jurnalis Go Indonesia







