Membangun Kesadaran Spiritual Dalam Dimensi dan Frekuensi Dari Bumi Menggapai Langit

0aaa 67 e1787987990559

Oleh : Jacob Ereste
BANTEN | Go Indonesia.id-Diplomasi spiritual global adalah gagasan yang tengah dipersiapkan untuk dilakukan oleh Wali Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu bersama GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yang mempersiapkan sosialisasi “Kitab MA HA IS MA YA” yang memuat 79 do’a kepada para tokoh dan pemuka agama pada 2 – 3 Agustus 2025, di Jakarta hanya dalam tempo 20 jam non stop.

“Kitab MA HA IS MA YA” setebal 300 halaman lebih itu, diapresiasi oleh berbagai kalangan semacam gebrakan yang menandai dimulainya suatu peradaban baru dari bangsa Nusantara — bagian dari belahan dunia Timur — yang akan memimpin bangkitnya kesadaran bangsa yang ada di dunia, baik dari dunia belahan Timur sendiri maupun dunia Barat.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Karena itu, percepatan sosialisasi “Kitab MA HA IS MA YA” sosialisasi akan diperkenalkan dari berbagai kota besar di Indonesia — Jakarta, Yogyakarta, Bali dan kota lainnya — untuk kemudian diusung ke berbagai manca negara dengan menyambangi berbagai tokoh dan menganugrahkan gelar dari bahasa bumi yang menjadi bagian dari kitab kumpulan do’a dari tradisi sufistik untuk memberikan do’a kepada orang lain. Sebab yang biasa terjadi serta dilakukan pada umumnya adalah melakukan do’a untuk diri sendiri.

Pilihan kesadaran dari sikap serupa ini, menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu, adalah bagian dari kesadaran peradaban baru menuju perubahan yang lebih baik dan besar dari siklus perubahan besar setiap tujuh abad keempat sekarang ini, dimana tatanan global akan segera mempersatukan dunia dalam satu nilai-nilai yang bersifat universal, tanpa batas serta tidak lagi tersekat dinding-dinding pemisah, termasuk antara Timur dan Barat maupun antara Utara dan Selatan. Sementara titik sentral dari delapan penjuru angin itu akan berpusat dan terpusat di Nusantara yang kini telah bersatu menjadi Indonesia.

“Kitab MA HA IS MA YA” sendiri jelas merupakan bagian dari kesaksian empiris gerakan kesadaran kebangkitan pemahaman spiritual yang telah bangkit dari Timur untuk dunia tanpa batas, bahwa ruh bumi dan langit serta seisinya adakah jiwa penggerak raga yang senantiasa bertasbih kepada Penguasa Jagat Raya yang telah berulang kali menyapa kehidupan dengan bahasa dan caranya yang khas tidak terbantah, sehingga kejumawahan intelektual manusia yang paling kampiun sekali pun tetap bersujud penuh segenap tahmid bahwa kehidupan akan segera berakhir dengan kematian yang tidak mampu disangkal harus diterima sebagaimana sunnatullah yang telah tersurat dan tersirat dengan jelas dalam setiap sapaan langit dan bumi yang tidak boleh diabaikan.

Kesadaran di bumi tidak mungkin mencapai langit, ketika keangkuhan dan kepongahan tidak segera dibersihkan melalui proses keikhlasan, sikap rendah hati, serta keyakinan terhadap Yang Maha Besar, jauh melampaui keangkuhan diri yang sesungguhnya menjadi penyebab kerusakan, mulai dari wujud material dan spiritual — yang gaib tak terlihat — seperti keangkuhan intelektual terhadap nilai-nilai maupun dimensi dan frekuensi spiritual yang selama ini terabaikan.

Begitulah upaya nyata telah dimulai membangun dimensi dan frekuensi spiritual dari bumi menggapai langit dalam keunggulan intelektual yang selama ini abai pada spiritualitas.

Rania Zahra/Jurnalis Go Indonesia


Advertisement

Pos terkait