NATUNA | Go Indonesia.Id _Pemerintah melalui Dinas Bina Marga menargetkan pembangunan jembatan penghubung dari Bunguran Selatan menuju Desa Piantengah dan Desa Mekar Jaya dapat direalisasikan pada tahun 2026.
Hal tersebut disampaikan oleh PPTK Bina Marga, Halomon, saat diwawancarai media di kantornya pada Senin, 13 April 2026.
Menurut Halomon, proyek pembangunan jembatan tersebut telah masuk dalam perencanaan anggaran melalui APBD Provinsi dengan nilai sekitar Rp8 miliar.
Untuk jembatan penghubung ini sudah kita anggarkan kurang lebih Rp8 miliar. Jika tidak ada kendala, rencananya akan kita lelang sekitar bulan Mei 2026,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah faktor yang menjadi perhatian, terutama kondisi ekonomi yang berpotensi mempengaruhi pelaksanaan proyek.
Kita juga melihat situasi ekonomi saat ini, termasuk dampak kenaikan BBM. Kita khawatir anggaran yang tersedia tidak mencukupi, namun kita berharap semua dapat berjalan lancar tanpa kendala,” tambahnya.
Di lapangan, jembatan penghubung tersebut sebenarnya sudah ada, namun hingga kini masih bersifat darurat karena terbuat dari kayu. Kondisi ini membuat jembatan kerap mengalami kerusakan, terutama saat musim hujan dan banjir.
Salah seorang warga menyebutkan, jembatan tersebut sangat berisiko untuk dilalui, terlebih saat debit air meningkat.
Selama ini kami pakai jembatan kayu, tapi kalau hujan deras atau banjir sering rusak. Bahkan kadang takut untuk dilewati karena kondisinya tidak aman,” ungkapnya.
Keberadaan jembatan permanen sangat dinantikan masyarakat, mengingat jalur tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan wilayah Bunguran Selatan dengan Desa Piantengah dan Desa Mekar Jaya.
Jika terealisasi, pembangunan jembatan ini tidak hanya meningkatkan keselamatan pengguna jalan, tetapi juga memperlancar aktivitas ekonomi, distribusi hasil usaha masyarakat, serta akses ke layanan pendidikan dan kesehatan.
Masyarakat berharap pemerintah dapat segera merealisasikan pembangunan tersebut agar akses antar desa menjadi lebih aman, lancar, dan berkelanjutan.
Reporter: Baharullazi



