Ke Siapa Kami Mengadu?” Jeritan Masyarakat Natuna di Tengah Krisis Ekonomi

2a 104

NATUNA | Go Indonesia.id– “Ke siapa kami mengadu?” Kalimat sederhana ini kini menjadi pertanyaan yang paling sering terdengar dari mulut masyarakat Natuna yang sedang dilanda krisis ekonomi berkepanjangan.

Di berbagai sudut daerah, keluhan datang silih berganti. Para kontraktor lokal masih menunggu pencairan pembayaran pekerjaan tahun 2024 hingga 2025 yang tak kunjung jelas kepastiannya. Proyek sudah selesai, tenaga sudah dikeluarkan, modal sudah habis, namun hak belum juga diterima.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Sementara itu, pelaku UMKM hanya bisa duduk termenung menunggu pembeli yang datang sesekali. Daya beli masyarakat anjlok, warung sepi, dan usaha kecil terancam gulung tikar satu per satu.

Di sektor pertanian, nasib tak kalah pahit. Petani mengeluhkan harga hasil panen yang tak menentu. Cabai yang dulu menjadi harapan kini justru jatuh di kisaran Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram, jauh dari harga ideal untuk menutup biaya produksi.

Nelayan pun ikut menjerit. Aktivitas melaut semakin sulit akibat ramainya kapal-kapal besar di perairan Natuna, terutama di jarak 50 hingga 60 mil dari pantai. Mereka merasa ruang hidup semakin sempit, hasil tangkapan menurun, sementara biaya operasional terus meningkat.

Ironisnya, di tengah penderitaan mayoritas masyarakat, yang terlihat masih tersenyum justru hanya segelintir pengusaha besar, khususnya di sektor tertentu yang diduga memiliki kedekatan dengan lingkar kekuasaan. Karyawan mereka tetap digaji, proyek tetap berjalan, sementara rakyat kecil hanya bisa menunggu keajaiban.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: apakah pemerintah daerah benar-benar hadir untuk rakyatnya? Ataukah kebijakan hanya berpihak pada kelompok tertentu, sementara masyarakat luas dibiarkan berjuang sendiri menghadapi badai ekonomi?

Jika keadaan ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin krisis ekonomi di Natuna akan berubah menjadi krisis sosial. Dan saat itu terjadi, mungkin pertanyaan “ke siapa kami mengadu?” tak lagi sekadar keluhan, melainkan simbol kegagalan kepemimpinan.

Reporter : Bahrullazi


Advertisement

Pos terkait