BATAM | Go Indonesia.id_ Peringatan Hari Marwah Provinsi Kepulauan Riau (HMKR) ke-24 yang akan digelar di Batam pada 15 Mei 2026 bukan sekadar agenda seremonial tahunan.
Di balik peringatan ini, muncul dinamika yang mengundang perhatian publik, terutama terkait makna “marwah” yang menjadi fondasi berdirinya Provinsi Kepulauan Riau, Selasa (7/4/26).
Secara historis, HMKR merupakan refleksi dari perjuangan panjang masyarakat dalam memisahkan diri dari Provinsi Riau, demi memperoleh pengakuan identitas budaya Melayu serta pemerataan pembangunan di wilayah kepulauan Namun, memasuki usia ke-24 tahun, sejumlah kalangan mulai mempertanyakan apakah nilai-nilai perjuangan tersebut masih terjaga secara utuh.
Dalam penelusuran di lapangan, muncul beragam pandangan mulai dari dukungan penuh terhadap peringatan ini hingga adanya suara-suara kritis yang menilai kegiatan tersebut belum menyentuh akar persoalan masyarakat, khususnya di wilayah hinterland.
Menanggapi dinamika tersebut, tokoh muda Melayu sekaligus Panglima Gagak Hitam, Udin Pelor, menyampaikan sikap tegas.
Ia menegaskan bahwa peringatan HMKR adalah bagian dari harga diri masyarakat Kepri yang tidak seharusnya diperdebatkan secara negatif.
“Ini bukan sekadar acara biasa, ini adalah simbol marwah kita sebagai orang Melayu Kepri. Jangan ada pihak-pihak yang menolak atau merendahkan peringatan ini. Kita harus menghormati sejarah perjuangan para pendahulu,” tegas Udin Pelor.
Menurutnya, perbedaan pandangan boleh saja terjadi dalam ruang demokrasi, namun tidak boleh sampai menghilangkan nilai penghormatan terhadap sejarah dan identitas daerah.
Udin Pelor juga menemukan adanya kekhawatiran bahwa peringatan HMKR berpotensi kehilangan substansi jika hanya difokuskan pada seremoni tanpa diiringi evaluasi nyata terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat.
Ketimpangan pembangunan antarwilayah, akses pendidikan di pulau-pulau kecil, serta kesejahteraan nelayan masih menjadi isu yang terus disuarakan.
Momentum HMKR seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang refleksi bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk meneguhkan kembali arah pembangunan Kepri yang berlandaskan nilai marwah: keadilan, kesejahteraan, dan pelestarian budaya, ungkapnya.
Peringatan HMKR ke-24 di Batam tahun ini diprediksi akan menjadi titik penting bukan hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga untuk menguji sejauh mana semangat perjuangan itu masih hidup di tengah tantangan zaman.
Dengan pesan tegas dari tokoh muda seperti Udin Pelor, publik diingatkan bahwa marwah bukan hanya simbol masa lalu, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dijaga di masa kini dan masa depan.
Editor : Go Indonesia





