Oleh : Falentinus Soge Hurint Dosen Universitas MUhamadiyah Maumere
FLORES TIMUR | Go Indonesia.id_ Ketahanan pendidikan di Indonesia tidak dapat diukur semata dari capaian akademik nasional, digitalisasi sekolah, atau pembangunan gedung di pusat-pusat perkotaan. (5/2/26).
Ukuran sesungguhnya justru tampak di wilayah-wilayah pinggiran: sejauh mana proses belajar mampu bertahan dan berlanjut di tengah keterbatasan struktural. Dalam konteks inilah, Sekolah Ceria di Kabupaten Flores Timur menjadi cermin penting ketahanan pendidikan yang lahir dari akar komunitas.
Sebagai wilayah kepulauan, Flores Timur masih dihadapkan pada tantangan klasik pendidikan: hambatan geografis, keterbatasan sarana dan prasarana, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang belum merata.
Tantangan-tantangan ini bukan sekadar statistik pembangunan, melainkan realitas sehari-hari yang langsung memengaruhi akses dan mutu pendidikan anak-anak. Namun, di tengah kondisi tersebut, Sekolah Ceria hadir sebagai ruang belajar yang memastikan satu hal fundamental: pendidikan tidak berhenti hanya karena keterbatasan.
Sekolah Ceria bukan sekadar institusi pendidikan alternatif. Ia adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap ketimpangan pendidikan struktural.
Ketekunan para pendidik yang tetap mengajar dengan fasilitas minimal menunjukkan bahwa inti pendidikan tidak semata terletak pada kelengkapan sarana, melainkan pada komitmen, dedikasi, dan keberpihakan pada masa depan anak-anak.
Di ruang-ruang belajar yang sederhana, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penjaga harapan dan penopang motivasi generasi muda.
Ketahanan pendidikan di Sekolah Ceria juga diperkuat oleh partisipasi aktif masyarakat. Dukungan orang tua dan warga sekitar menandakan adanya kesadaran kolektif bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan semata urusan negara atau sekolah formal.
Ketika masyarakat merasa memiliki sekolah, keberlanjutan pendidikan menjadi lebih kokoh.
Model inilah yang sering luput dari perhatian kebijakan nasional, padahal justru menjadi fondasi penting pendidikan di daerah.
Namun demikian, kisah Sekolah Ceria tidak boleh berhenti sebagai narasi inspiratif belaka. Ia seharusnya menjadi cermin kritis bagi negara dan para pemangku kebijakan pendidikan. Selama ini, pendekatan pembangunan pendidikan masih cenderung seragam dan berorientasi pusat, kurang sensitif terhadap kondisi lokal. Daerah seperti Flores Timur membutuhkan kebijakan yang adaptif, berkeadilan, dan berkelanjutan—bukan sekadar program jangka pendek atau proyek simbolik.
Inisiatif pendidikan berbasis komunitas seperti Sekolah Ceria harus diperkuat secara sistemik melalui dukungan anggaran yang memadai, peningkatan kapasitas pendidik, serta penyediaan sarana dan prasarana yang layak.
Tanpa dukungan negara yang nyata, ketahanan pendidikan yang tumbuh dari komunitas berisiko berjalan sendiri, rapuh, dan sulit berkembang secara optimal.
Negara tidak cukup hadir sebagai regulator yang menetapkan standar, tetapi harus berperan sebagai mitra strategis yang memastikan inisiatif lokal memiliki ruang untuk tumbuh dan berdampak lebih luas. Dengan cara itulah, kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah dapat ditekan secara bertahap dan berkeadilan.
Pada akhirnya, Sekolah Ceria di Flores Timur bukan sekadar kisah tentang sekolah di daerah terpencil. Ia adalah simbol ketahanan pendidikan nasional—bahwa di tengah keterbatasan, proses belajar tetap dapat berlangsung secara bermakna. Dari Sekolah Ceria, publik diingatkan bahwa esensi pendidikan terletak pada keberlanjutan proses, dedikasi pendidik, dan dukungan masyarakat.
Ketahanan pendidikan yang lahir dari daerah semestinya menjadi pijakan utama dalam merumuskan arah kebijakan pendidikan Indonesia yang lebih inklusif dan adil.
Reporter: Konstantin







