NATUNA | Go Indonesia.id β Satu tahun masa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Natuna telah berjalan. kamis (19/2/26).
Namun di tengah berbagai klaim capaian dan program, suara-suara kritik dari masyarakat semakin terdengar.
Harapan akan perubahan yang signifikan dinilai belum sepenuhnya terwujud.
Sejumlah nelayan mengaku masih kesulitan melaut akibat keterbatasan modal serta tingginya biaya operasional. Bantuan yang diharapkan mampu menjadi solusi dinilai belum maksimal dan belum merata.
Padahal sektor perikanan merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir Natuna.
Keluhan juga datang dari kalangan kontraktor lokal yang mengaku pembayaran pekerjaan belum sepenuhnya diselesaikan.
Kondisi ini membuat arus usaha tersendat dan berdampak pada perputaran ekonomi daerah.
Tak hanya itu, para pemecah batu dan penyekop pasir kini mengaku kebingungan menghadapi berbagai aturan dan kebijakan yang berlaku.
Mereka merasa ruang gerak untuk mencari nafkah semakin sempit, sementara solusi alternatif belum terlihat jelas. Di sisi lain, banyak mahasiswa Natuna justru memilih mencari pekerjaan di luar daerah karena peluang kerja di kampung halaman dinilai minim.
Di tengah situasi tersebut, para pendukung pemerintah tetap menyuarakan keberhasilan dan optimisme atas kinerja yang telah berjalan.
Namun sebagian masyarakat menilai, setelah satu tahun berlalu, bukti kerja yang benar-benar memuaskan dan dirasakan secara luas belum tampak signifikan.
Kritik yang muncul merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak alergi terhadap suara berbeda, melainkan menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kebijakan ke depan.
Memasuki tahun kedua kepemimpinan, publik Natuna menanti langkah nyata yang lebih konkret dan berpihak pada rakyat kecil agar kesejahteraan bukan hanya menjadi janji, tetapi benar-benar menjadi kenyataan yang dirasakan bersama.
Reporter : Baharullazi







