Bukan Sekadar Seragam Loreng: Kisah Koptu Suhadak dan Koptu Bambang Bertahun-tahun Mengabdi di Tapal Batas Dharmasraya

0a 190 e1786972476640

DHARMASRAYA | Go Indonesia.id– Di wilayah tapal batas, menjaga keamanan bukan semata tentang berdiri di garis terdepan. Ada masyarakat yang harus didengar, ada persoalan warga yang perlu dipahami, dan ada ketenteraman nagari yang harus terus dijaga.

Di Kecamatan Asam Jujuhan, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, pengabdian itu dijalani dua prajurit TNI Angkatan Darat yang setiap hari bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.(17/8/26)

Bacaan Lainnya

Advertisement

Mereka adalah Koptu Suhadak, Babinsa Lubuk Besar, dan Koptu Bambang, Babinsa Alahan Nan Tigo, yang bertugas di bawah jajaran Koramil 10/Koto Baru, Kodim 0310/SSD

Bagi keduanya, seragam loreng bukan sekadar pakaian dinas. Di balik seragam itu melekat tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat, membangun komunikasi, mendengar keluhan warga, sekaligus ikut menjaga wilayah binaan agar tetap aman dan kondusif.

Empat Tahun Koptu Suhadak Mengabdi

Koptu Suhadak telah menjalani sekitar empat tahun pengabdian sebagai Babinsa di wilayah Lubuk Besar.

Kisah pengabdiannya disampaikannya kepada awak media saat mengikuti upacara bendera dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, di halaman Kantor Camat Asam Jujuhan, Senin (17/8/2026).

Empat tahun mungkin terdengar sederhana ketika hanya dihitung dengan angka. Namun bagi seorang Babinsa, waktu selama itu berarti ribuan pertemuan, komunikasi dengan masyarakat, mendengar berbagai persoalan, serta memahami karakter wilayah dan kehidupan warga yang menjadi tanggung jawabnya.

Hari demi hari, Suhada berusaha memastikan kehadirannya bukan hanya sebagai aparat, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang ia bina.

Enam Tahun Koptu Bambang Bersama Warga Alahan Nan Tigo

Sementara itu, Koptu Bambang telah sekitar enam tahun mengabdikan diri sebagai Babinsa di Nagari Alahan Nan Tigo.

Enam tahun membuat sosoknya semakin lekat dengan kehidupan masyarakat.

Ia tidak hanya mengenal wilayah tugasnya, tetapi juga membangun hubungan dengan warga yang ditemuinya dalam keseharian.

Bertahun-tahun berada di tengah masyarakat membuat seorang Babinsa memahami bahwa keamanan tidak selalu dimulai dari tindakan besar.

Sering kali, keamanan justru lahir dari hal-hal sederhana: komunikasi yang baik, saling mengenal, kepedulian, serta kepercayaan antara aparat dan masyarakat.

Dekat dengan Masyarakat

Di kawasan perbatasan, kedekatan Babinsa dengan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga situasi tetap aman dan kondusif.

Babinsa tidak hanya hadir ketika terjadi persoalan.

Mereka juga harus mengikuti perkembangan kehidupan masyarakat, membuka ruang komunikasi, menyerap informasi dari warga, serta memahami berbagai dinamika yang terjadi di wilayah binaan.

Kehadiran tersebut menjadi jembatan antara aparat dan masyarakat.

Ketika komunikasi terbangun dengan baik, berbagai persoalan dapat diketahui lebih cepat. Potensi gangguan keamanan pun dapat diantisipasi melalui kepedulian dan kebersamaan.

Masyarakat menjadi mata dan telinga di lingkungannya, sementara Babinsa menjadi salah satu penghubung dalam menjaga agar situasi tetap terkendali.

Bertahun-tahun Menjaga Nagari

Empat tahun bagi Koptu Suhadak dan enam tahun bagi Koptu Bambang bukanlah perjalanan singkat.

Di balik angka tersebut tersimpan banyak cerita.

Ada suka dan duka. Ada tantangan di lapangan. Ada persoalan masyarakat yang harus didengar. Ada pula dinamika kehidupan nagari yang menuntut kehadiran dan kesabaran.

Namun satu hal yang terus menjadi pegangan: wilayah binaan harus tetap aman, tertib dan kondusif.

Tugas Babinsa menuntut kesiapsiagaan. Tetapi lebih dari itu, tugas tersebut membutuhkan kemampuan membangun hubungan dengan masyarakat.

Sebab menjaga keamanan di wilayah bukan hanya persoalan menjalankan tugas secara formal. Ada pendekatan, komunikasi, kepedulian dan keteladanan yang harus terus dirawat.

Tapal Batas dan Tantangannya

Kecamatan Asam Jujuhan memiliki karakter wilayah tersendiri. Sebagai kawasan yang berada di wilayah perbatasan Kabupaten Dharmasraya, keberadaan aparat kewilayahan memiliki arti penting.

Di kawasan seperti ini, kewaspadaan harus berjalan beriringan dengan pendekatan kepada masyarakat.

Babinsa dituntut mengenal wilayahnya, memahami kondisi masyarakat, serta mengetahui berbagai perkembangan yang terjadi di nagari.

Koptu Suhadak dan Koptu Bambang menjalani tugas tersebut dari hari ke hari.

Dengan cara yang sederhana namun bermakna: berkomunikasi dengan warga, membangun hubungan baik, menyerap informasi, dan ikut menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga keamanan nagari bukan hanya tugas aparat.

Itu adalah tanggung jawab bersama.

Ketika Babinsa Menjadi Bagian dari Kehidupan Warga

Bertahun-tahun berada di tengah masyarakat membuat jarak antara aparat dan warga semakin dekat.

Babinsa dapat menjadi tempat masyarakat menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Sebaliknya, masyarakat juga memiliki peran penting dalam membantu aparat memahami perkembangan situasi di lingkungannya.

Dari hubungan tersebut tumbuh sesuatu yang tidak bisa dibangun hanya dengan aturan: kepercayaan.

Keamanan tidak semata-mata lahir dari patroli atau keberadaan seragam.

Keamanan juga tumbuh dari komunikasi, kepedulian, gotong royong dan rasa saling percaya.

Nilai-nilai itulah yang terus dibangun melalui kehadiran Babinsa di tengah masyarakat.

Pengabdian yang Tak Banyak Bicara

Tidak semua bentuk pengabdian harus terlihat besar.

Ada pengabdian yang berlangsung dalam kesunyian, dari hari ke hari. Dari satu pertemuan dengan warga ke pertemuan lainnya. Dari satu persoalan ke persoalan berikutnya.

Koptu Suhadak dan Koptu Bambang adalah bagian dari cerita tersebut.

Mereka mungkin tidak selalu berada di panggung dan tidak selalu mendapatkan sorotan.

Namun di tengah masyarakat tapal batas, kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya menjaga agar kehidupan nagari tetap berjalan aman dan tenteram.

Sebab bagi seorang Babinsa, menjaga wilayah bukan hanya tentang menjaga batas.

Menjaga nagari tetap kondusif, menjaga masyarakat tetap aman, dan menjaga kepercayaan wargaβ€”itulah bagian dari pengabdian yang sesungguhnya.

Di tapal batas Dharmasraya, pengabdian itu terus berjalan.

Hari ini, esok, dan selama masyarakat masih membutuhkan kehadiran mereka.

Bukan sekadar seragam loreng.

Di baliknya ada tanggung jawab.
Ada kedekatan
Ada ketulusan.

Dan ada pengabdian panjang yang mungkin tidak selalu terdengar, tetapi dirasakan oleh masyarakat yang mereka layani.

Dari tapal batas Dharmasraya, kisah pengabdian itu terus ditulisβ€”bukan dengan banyak kata, melainkan dengan kehadiran dan kesetiaan menjalankan tugas.

Amat/Jurnalis Go Indonesia


Advertisement

Pos terkait