WERIANGGI-WERABUR | Go Indonesia.idβ Puluhan petani pala di Werianggi-Werabur, Papua Barat, kini memiliki kemampuan dasar Bahasa Inggris yang dapat membantu mereka memperkenalan produk daerah ke pasar yang lebih luas. Pembelajaran di Sekolah Pesisir yang diinisiasi Tim 3 Universitas Indonesia (UI) rutin menghadirkan materi Bahasa Inggris dasar bagi warga kawasan transmigrasi.
Setiap minggunya, 34 petani pala yang tergabung dalam Kelompok Tani Perempuan Ayawata (UMKM Ayawata) mengikuti proses pengenalan kosakata, percakapan dasar, hingga ungkapan yang dapat digunakan dalam memperkenalkan diri, wilayah, komoditas, dan produk lokal. Pembelajaran diarahkan agar masyarakat secara bertahap memiliki keberanian untuk menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
“Dengan berbahasa Inggris, saya bisa berkomunikasi dan berbicara dengan teman-teman. Ketika ada turis atau orang yang tidak sama bahasa dengan saya, saya berbicara bahasa Inggris. Banyak peluang terbuka bagi warga di sini,” kata Darles Bokayu, salah satu peserta kelas yang merasakan langsung manfaatnya, Selasa, (8/9) lalu.
Sebagai kelompok petani yang berfokus pada pengolahan buah pala menjadi permen, sirup, dan sari pala, motivasi masing-masing peserta beraneka ragam. Ada yang ingin meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris untuk tujuan komunikasi semata. Ada juga yang bercita-cita ingin memasarkan produk dan bekerja sama dengan pihak luar negeri melalui MoU.
“Mari kita lanjutkan hingga tahun-tahun ke depan. Ilmu yang kami miliki di sini memang masih kurang, tapi ilmu yang datang dari luar akan menjadi bagian dari perkembangan kami ke depan,” ujar Darles di waktu yang sama.
Pengalaman Darles dan Kelompok Ayawata sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong penguasaan bahasa asing sejak dini agar masyarakat mampu bersaing di kancah global.
“Bahasa asing mutlak harus kita kuasai,” ujar Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI, Jumat (14/8) lalu.
Sejalan dengan arahan tersebut, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara memaparkan visi baru dari program transmigrasi nasional. Ia menyatakan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah bagaimana program tersebut mampu memberdayakan wilayah tujuan dan mendongkrak perekonomian lokal secara nyata.
“Ukuran kesuksesan transmigrasi sekarang adalah menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat,” ungkap Menteri Iftitah beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, Mentrans menekankan bahwa indikator keberhasilan tidak lagi semata-mata dinilai dari jumlah warga yang dipindahkan, melainkan dari seberapa besar kontribusi program tersebut terhadap kemandirian ekonomi masyarakat di kawasan tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menambahkan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi saat ini harus berfokus pada keberlanjutan ekonomi dan daya tarik investasi. Transmigrasi tidak lagi dipandang sekadar lokasi pemindahan penduduk.
βYang dulu paradigmanya adalah memindahkan penduduk ke luar Jawa, kini paradigmanya menjadi bagaimana membangun kawasan-kawasan tersebut sehingga menjadi daya tarik investasi, dan juga pembangunan atau pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,β ujar Menteri Koordinator Bidang Infrastrukur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Hari Murti Yudhoyono beberapa waktu lalu.(GWK)
Rania Zahra/Jurnalis Go Indonesia
Sumber: Tim Kementerian Transmigrasi
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia
π Jl. TMP Kalibata No.17, Jakarta Selatan 12750
π (021) 7994372
π§ [email protected]
π www.transmigrasi.go.id






