JAKARTA | Go Indonesia.Id – Pergantian Menteri Keuangan Republik Indonesia diharapkan tidak sekadar menjadi rotasi jabatan, tetapi menjadi momentum menghadirkan arah baru pengelolaan keuangan negara yang lebih berpihak pada pemerataan pembangunan dan kebutuhan daerah.
Harapan itu disampaikan Pakar Hukum Internasional sekaligus Ekonom, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID), Prof. Sutan Nasomal, SH., MH., Rabu (17/9/2026).
Prof Sutan Nasomal menyampaikan ucapan selamat kepada Menteri Keuangan yang baru. Ia menyatakan keyakinannya bahwa kepemimpinan baru di Kementerian Keuangan mampu membawa kebijakan fiskal Indonesia ke arah yang lebih kuat, termasuk menghadapi tekanan ekonomi global dan dominasi mata uang dollar.
Menurutnya, kebijakan fiskal nasional memiliki posisi strategis dalam memastikan pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di pusat, tetapi juga memberikan dampak nyata kepada masyarakat di berbagai daerah.
βKita berharap Menteri Keuangan yang baru membawa harapan baru bagi daerah. Kebijakan keuangan negara harus mampu memperkuat hubungan fiskal antara pemerintah pusat dan daerah, sehingga pembangunan dapat berjalan lebih adil, merata, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,β ujar Prof Sutan Nasomal.
Ia menilai setiap daerah memiliki karakteristik, potensi, kebutuhan, dan tantangan pembangunan yang berbeda. Karena itu, kebijakan fiskal dan transfer ke daerah menurutnya perlu mempertimbangkan aspek keadilan, kebutuhan pembangunan, kemampuan fiskal, luas wilayah, jumlah penduduk, serta kontribusi daerah terhadap perekonomian nasional.
Prof Sutan Nasomal juga menyoroti pentingnya penguatan kapasitas fiskal daerah. Pemerintah daerah, katanya, perlu memiliki ruang yang memadai untuk mengembangkan potensi ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Namun, penguatan tersebut tetap harus berjalan bersama prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan pengelolaan keuangan negara.
βKeadilan pembangunan bukan berarti semua daerah mendapatkan perlakuan yang sama persis, tetapi setiap daerah mendapatkan dukungan yang proporsional sesuai kebutuhan dan karakteristiknya. Daerah dengan tantangan geografis, infrastruktur, maupun keterbatasan fiskal tentu membutuhkan perhatian dan kebijakan afirmatif,β katanya.
Ia juga mendorong Kementerian Keuangan memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan fiskal.
Masukan dari daerah, menurutnya, penting agar kebijakan yang dirancang secara makro di tingkat pusat benar-benar efektif ketika diterapkan di lapangan.
Prof Sutan Nasomal mendorong agar kebijakan fiskal semakin diarahkan untuk memperkuat sektor-sektor produktif di daerah.
Diantaranya pembangunan infrastruktur dasar, pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, kelautan dan perikanan, UMKM, serta pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
βDaerah jangan hanya dipandang sebagai penerima kebijakan dari pusat. Daerah adalah bagian penting dari mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika daerah tumbuh kuat, maka ekonomi nasional juga akan semakin kuat,β tegasnya.
Ia berharap Menteri Keuangan yang baru mampu membangun keseimbangan antara kepentingan fiskal nasional dan kebutuhan pembangunan daerah.
βHarapan kita sederhana: kehadiran Menteri Keuangan yang baru benar-benar menjadi energi baru dalam membangun hubungan pusat dan daerah yang lebih kuat. Fiskal negara harus menjadi instrumen pemerataan, bukan sekadar instrumen pengendalian anggaran. Dengan pembangunan yang lebih berkeadilan, masyarakat di seluruh daerah dapat merasakan manfaat pembangunan secara nyata,β ujar Prof Sutan Nasomal.
Prof. Sutan Nasomal juga menyatakan keyakinannya bahwa Menteri Keuangan yang baru memiliki kapasitas untuk memperkuat posisi ekonomi Indonesia di tengah tekanan ekonomi global, termasuk dalam menghadapi dominasi dollar.
βSelamat Menteri Keuangan baru RI. Semoga mampu membawa energi baru, memperkuat ekonomi nasional, memperkuat daerah, dan menghadapi tantangan dollar dengan kebijakan yang berani dan terukur,β pungkasnya.
Prof. Sutan Nasomal dikenal sebagai Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Jenderal Kompii, Pendiri dan Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS, Rektor Universitas STIA/STIH Pronass, serta Ketua Umum YPLBH.
REDAKSI







