INTAN JAYA, PAPUA TENGAH | GoIndonesia.id — Lapisan es yang selama ribuan tahun menyelimuti kawasan Puncak Carstensz di Pegunungan Tengah Papua kini terus mengalami penyusutan. Fenomena tersebut menjadi salah satu gambaran nyata dampak perubahan iklim yang turut dirasakan masyarakat adat di sekitar kawasan pegunungan Papua.
Sejumlah laporan mengenai kondisi gletser di Puncak Carstensz bahkan menyebut lapisan es yang tersisa berpotensi mengalami kehilangan besar dalam waktu dekat. Namun, waktu pasti kapan seluruh lapisan es tersebut akan menghilang masih menjadi persoalan ilmiah yang perlu dikaji dan dikonfirmasi berdasarkan data pengamatan terbaru.
Bagi masyarakat adat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut, persoalan ini bukan sekadar perubahan bentang alam. Puncak yang dikenal sebagai Nemangkawi oleh masyarakat Amungme dan Mbainggela oleh masyarakat Moni memiliki nilai budaya dan spiritual yang sangat kuat.
Nemangkawi, Tempat yang Disakralkan
Elfrida Natkime, perempuan muda dari komunitas Amungme di dataran tinggi Mimika, mengatakan Nemangkawi memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah gunung.
Menurutnya, kawasan tersebut berkaitan erat dengan kehidupan leluhur dan hubungan spiritual masyarakat Amungme dengan tanah mereka.
«“Nemangkawi bukan hanya gunung, tapi tempat peristirahatan orang tua dan leluhur,” kata Elfrida.»
Ia juga menggambarkan kedudukan Nemangkawi dalam keyakinan masyarakat Amungme.
«“Nemangkawi itu Hai Jogon—kedudukannya seperti surga,” ujarnya.»
Kesakralan kawasan puncak tersebut tidak hanya dikenal masyarakat Amungme. Masyarakat adat Hubula di sekitar Jayawijaya dan komunitas Damal di Kabupaten Puncak juga memiliki hubungan budaya dengan kawasan pegunungan yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah bersalju di Indonesia.
Sementara bagi masyarakat Moni di wilayah Intan Jaya, puncak tersebut dikenal dengan sebutan Mbainggela, yang dimaknai sebagai tempat suci atau gunung yang tidak sembarangan didatangi.
Mbainggela dalam Ingatan Masyarakat Moni
Magdalena Sondegau, warga Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, mengatakan keberadaan puncak tersebut telah menjadi bagian dari cerita dan budaya masyarakat Moni yang diwariskan secara turun-temurun.
«“Menurut pandangan orang Moni secara turun-temurun, Carstensz itu tempat suci,” katanya.»
Menurut Magdalena, keberadaan gunung tersebut juga hadir dalam berbagai ekspresi budaya masyarakat setempat.
«“Dalam budaya kami, gunung itu dan daerah sekitarnya selalu kami sebut dalam nyanyian,” ujarnya.»
Magdalena pernah bekerja sebagai pemikul barang bagi para pendaki yang melakukan perjalanan menuju kawasan Puncak Carstensz. Pengalaman tersebut membuatnya melihat langsung perubahan kondisi lapisan es di kawasan tersebut.
Perubahan Iklim dan Ketidakadilan Global
Penyusutan gletser Carstensz juga menjadi perhatian para peneliti. Marie Sabacka, pakar ekologi gletser dari Charles University, Republik Ceko, melakukan penelitian di kawasan tersebut pada Maret 2026.
Menurut Marie, perubahan pada gletser Carstensz merupakan salah satu contoh bagaimana perubahan iklim berdampak terhadap lingkungan di Papua.
Ia juga menyoroti aspek keadilan iklim. Masyarakat adat Papua, menurutnya, memiliki kontribusi yang relatif kecil terhadap emisi gas rumah kaca global, tetapi turut menghadapi dampak perubahan iklim.
«“Masyarakat adat Papua berkontribusi sangat sedikit terhadap emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global, tapi mereka menyaksikan perubahan yang tidak terelakkan di ruang hidup mereka,” kata Marie.»
Gletser Menyusut dalam Waktu Relatif Singkat
Klaus Thymann, penjelajah asal Denmark, termasuk salah satu pihak yang melakukan ekspedisi ke Puncak Carstensz. Pada akhir 2025, ia mendatangi kawasan tersebut untuk membuat pemetaan tiga dimensi terhadap gletser yang masih tersisa.
Ia menggambarkan perubahan yang dilihatnya sebagai sesuatu yang mencolok.
«“Gletser telah berada di puncak itu selama berabad-ab
Agustinus Selegani/Jurnalis Go Indonesia






