BATAM | Go Indonesia.id _Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, meresmikan Migrant Center di Batam Tourism Polytechnic (BTP) sebagai langkah strategis dalam membangun ekosistem tenaga kerja migran yang profesional dan berkeahlian.
Peresmian ini dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang dipusatkan di Auditorium BTP. (9/6/26).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya konkret pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang siap bersaing di pasar global, khususnya di sektor hospitality.
Dalam kunjungannya, Menteri Mukhtarudin mengapresiasi langkah cepat BTP yang langsung merealisasikan kerja sama setelah penandatanganan kesepakatan formal.
“Perkembangan ini cepat. Tentu kita akan bangun ekosistem hulu pekerja migran yang skilled workers, dan fokusnya di bidang hospitality,” ujar Mukhtarudin usai meninjau fasilitas kampus.
Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Asman Abnur selaku Ketua Badan Pembina Yayasan VITKA, Sigit Suryantoro Widiyanto (Konsul Jenderal RI untuk Johor Bahru), Astika Mutiarazma, serta jajaran akademisi dan pemerintah daerah.
Mukhtarudin menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan merupakan sinergi ideal, di mana pemerintah berperan sebagai regulator, sementara perguruan tinggi menjadi operator dalam menyiapkan tenaga kerja dari hulu.
Ia juga menyebutkan bahwa pemerintah saat ini telah menjalin kerja sama dengan berbagai kementerian dan perguruan tinggi ternama guna memperkuat penyiapan tenaga kerja migran melalui jalur resmi seperti skema Government to Government (G-to-G).
Lebih lanjut, Menteri Mukhtarudin menyoroti peluang besar Indonesia di tengah fenomena aging population di negara maju seperti Eropa dan Jepang. Menurutnya, bonus demografi yang dimiliki Indonesia harus dimanfaatkan dengan menyiapkan tenaga kerja yang produktif dan kompeten.
Batam dinilai memiliki posisi strategis karena berbatasan langsung dengan Singapura. Kehadiran Migrant Center di BTP diyakini tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas SDM, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian daerah.
“Ekosistem ini akan mengurangi pengangguran, meningkatkan kesejahteraan, serta memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa pekerja migran saat ini merupakan pahlawan devisa negara, mengingat besarnya kontribusi remitansi terhadap perekonomian nasional.
Melihat kualitas mahasiswa BTP yang telah menjalani magang internasional di berbagai negara Asia hingga Australia, Mukhtarudin mendorong agar BTP segera membentuk Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).
“Saya sarankan segera siapkan P3MI agar tercipta one stop service. Kuliah di BTP, jalur kerja dalam dan luar negeri sudah tersedia secara prosedural,” tegasnya.
Sementara itu, Yayasan VITKA melalui Ketua Pembinanya, Asman Abnur, menyambut positif kerja sama tersebut. Ia mengungkapkan bahwa BTP baru saja meraih peningkatan akreditasi dari “Baik Sekali” menjadi “Unggul”.
“Dengan status ini, kita semakin percaya diri untuk bersaing di tingkat internasional,” ujarnya.
Asman juga menegaskan pentingnya peningkatan keterampilan tenaga kerja agar tidak lagi didominasi sektor informal di luar negeri.
“Skill itu nomor satu. Kita harus buktikan bahwa lulusan Indonesia adalah tenaga profesional yang dibutuhkan pasar global,” tegasnya.
Ia menambahkan, kehadiran Menteri P2MI di kampus menjadi energi baru bagi civitas akademika untuk terus bergerak maju dalam menyiapkan jalur formal dan prosedural bagi generasi muda Indonesia yang ingin berkarier di tingkat internasional.
Peresmian Migrant Center ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam transformasi penempatan pekerja migran Indonesia menuju arah yang lebih profesional, terampil, dan terlindungi.
Redaksi/ BP2MI







