Imran Wali Minta Pemda Serius Tangani Karhutla,12 Titik Panas Terdeteksi di Maluku

IMG 20261006 WA0078

MALUKU | Go Indonesia.id — Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Maluku mendapat perhatian serius menyusul munculnya titik panas dan kabut asap dalam beberapa hari terakhir.(5/10/26).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 12 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Maluku pada 3 Oktober 2026. Selain itu, BMKG juga mengamati asap tipis hingga sedang yang menyelimuti sejumlah wilayah Maluku dalam sepekan terakhir.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan laporan kebakaran lahan di sejumlah daerah. Di Kota Tual, misalnya, kebakaran lahan terjadi di Kecamatan Pulau Dullah Utara pada 3 dan 4 Oktober 2026 dan berhasil ditangani petugas pemadam kebakaran.

Sementara di Kabupaten Seram Bagian Timur, BNPB melaporkan karhutla terjadi di Desa Saalas, Kecamatan Bula, dan Desa Silohan, Kecamatan Bula Barat. Berdasarkan pemutakhiran data BNPB per 1 Oktober 2026, sekitar 40 hektare lahan terbakar.

Di Kota Ambon, kondisi asap juga menjadi perhatian. RRI melaporkan asap cukup tebal terpantau pada 3 Oktober dengan jarak pandang di sejumlah wilayah kurang dari lima kilometer.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua DPW Waktu Indonesia Bergerak (WIB) Maluku, Imran Wali, meminta pemerintah daerah di wilayah yang terdampak maupun memiliki potensi karhutla meningkatkan kewaspadaan dan langkah penanganan.

Imran menilai pemerintah daerah tidak boleh hanya bergerak ketika api sudah membesar. Pemantauan titik panas, kesiapsiagaan petugas, pencegahan pembakaran lahan serta koordinasi antarinstansi perlu diperkuat untuk mencegah kebakaran meluas.

“Kami meminta pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap kondisi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Maluku. Jangan menunggu api meluas baru dilakukan penanganan,” ujar Imran.

Menurutnya, kondisi di Kota Ambon, Kota Tual, Bula dan wilayah lainnya perlu menjadi perhatian bersama karena kebakaran lahan tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan kabut asap dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Ia juga meminta pemerintah daerah bersama BPBD, pemadam kebakaran, aparat keamanan dan instansi terkait melakukan pemantauan secara berkelanjutan terhadap wilayah yang terdeteksi memiliki titik panas.

“Yang kita harapkan adalah tindakan cepat di lapangan sekaligus langkah pencegahan. Masyarakat juga harus mendapatkan informasi yang jelas apabila terjadi kebakaran atau peningkatan kabut asap,” katanya.

Imran menambahkan, pemerintah daerah perlu memastikan masyarakat, khususnya kelompok rentan, mendapatkan perlindungan apabila kualitas udara memburuk akibat sebaran asap.

BMKG sendiri telah mengingatkan potensi asap kategori sedang di sejumlah wilayah Maluku, termasuk Kota Ambon, Buru, Buru Selatan, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat, Kota Tual, Maluku Tenggara, Kepulauan Aru dan bagian utara Kepulauan Tanimbar.

Sura Borut | Jurnalis/Go Indonesia.id


Advertisement

Pos terkait