FLORES TIMUR, NTT | Go Indonesia.id — Aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki yang meningkat sepanjang 2025 telah menimbulkan dampak luas bagi masyarakat Kabupaten Flores Timur. Selain kerusakan lingkungan dan gangguan penerbangan, erupsi gunung api tersebut memicu krisis sosial, ekonomi, dan pendidikan bagi ribuan warga terdampak.(17/1/26).
Di tengah kondisi darurat itu, Sekolah Ceria di Desa Konga hadir sebagai ruang belajar alternatif bagi anak-anak penyintas erupsi. Sekolah darurat ini menjadi upaya menjaga keberlangsungan pendidikan setelah sejumlah bangunan sekolah formal mengalami kerusakan berat akibat letusan besar pada November 2024.
Hingga Oktober 2025, Sekolah Ceria menampung 94 siswa dari dua sekolah formal yang tidak lagi dapat digunakan. Kegiatan belajar mengajar berlangsung di tujuh ruang belajar sementara yang dibangun secara cepat dengan fasilitas sederhana.
Meski jauh dari kondisi ideal, Sekolah Ceria menjadi ruang aman bagi anak-anak yang kehilangan rumah dan lingkungan belajar mereka. Di tempat ini, para siswa tetap mengikuti pembelajaran di tengah situasi pascabencana yang belum sepenuhnya pulih.
Seorang dosen Universitas Muhammadiyah Maumere, Falentinus Hurint, menilai keberadaan Sekolah Ceria sebagai contoh penting peran pendidikan dalam situasi krisis. Menurutnya, pendidikan tidak boleh terhenti meski infrastruktur sekolah rusak akibat bencana.
“Pendidikan harus hadir sebagai ruang pemulihan, penguatan mental, dan pembangun harapan bagi anak-anak penyintas bencana,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa model pendidikan darurat seperti Sekolah Ceria perlu mendapat dukungan lebih luas dari pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil.
Falentinus juga menyoroti dampak psikologis yang dialami anak-anak terdampak erupsi. Trauma akibat suara letusan, proses evakuasi, serta perubahan drastis dalam kehidupan sehari-hari menjadi tantangan serius yang perlu ditangani secara berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, Sekolah Ceria tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga sebagai ruang pemulihan sosial dan emosional. Guru dan relawan berperan mendampingi siswa melalui pendekatan empatik, membantu mereka membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri.
Pengalaman di Flores Timur menunjukkan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang harus tetap dijaga dalam situasi bencana. Inisiatif Sekolah Ceria menegaskan pentingnya kebijakan pendidikan yang fleksibel, dukungan sumber daya berkelanjutan, serta perhatian terhadap kondisi psikososial anak-anak terdampak.
Di tengah ancaman erupsi yang masih berlanjut, aktivitas belajar di Desa Konga menjadi simbol ketahanan dan harapan. Dari ruang belajar sederhana tersebut, anak-anak penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki kembali menata masa depan mereka.
Reporter: Konstantin







