Gas Elpiji Non Subsidi dari Luar Daerah Membanjiri Natuna, Pangkalan Lokal Terancam

IMG 20260423 WA0353

NATUNA | Go Indonesia.Id – Maraknya masuknya gas elpiji non subsidi dari luar Kabupaten Natuna mulai menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi satu-satunya pangkalan elpiji yang ada di daerah tersebut.

Kondisi ini dinilai berpotensi mematikan usaha pangkalan lokal yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi resmi.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Seorang pemilik pangkalan elpiji di Natuna berinisial A, saat diwawancarai media pada 23 April 2026, mengungkapkan bahwa derasnya pasokan dari luar daerah sangat mempengaruhi keberlangsungan usahanya.

Memang tidak melanggar undang-undang, tapi dalam aturan internal (AD/ART), pangkalan sebenarnya tidak diperbolehkan menjual ke luar wilayah usahanya. Ini yang jadi persoalan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dampak terhadap pendapatan daerah.

Menurutnya, jika masyarakat membeli elpiji di pangkalan lokal, maka pajak akan masuk ke kas Pemerintah Daerah Natuna.

Sebaliknya, jika pembelian dilakukan di luar daerah, potensi pajak tersebut justru mengalir ke daerah lain.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bagian Ekonomi Setda Natuna, Anggino Riko, saat dikonfirmasi membenarkan adanya peningkatan masuknya elpiji non subsidi dari luar daerah.

Secara hukum memang tidak ada pelanggaran. Namun kami sudah berkoordinasi dengan beberapa daerah, termasuk di Kalimantan Barat, untuk mengimbau agar tidak menjual elpiji ke luar wilayah usaha masing-masing,” jelasnya.

Ia menambahkan, persoalan ini juga dipengaruhi oleh perilaku konsumen. Banyak masyarakat Natuna yang justru membeli elpiji dari luar daerah, bukan semata karena distribusi dari pihak luar.

Artinya, yang membeli ini masyarakat kita sendiri. Karena itu, kami menyarankan kepada para pedagang eceran agar mengambil stok dari pangkalan lokal supaya pajaknya tetap masuk ke daerah kita,” tegasnya.

Namun demikian, hingga saat ini pemerintah belum dapat memastikan penyebab utama masyarakat lebih memilih elpiji dari luar daerah. Dugaan sementara mengarah pada kemungkinan selisih harga atau faktor lainnya.

Di sisi lain, seorang warga pengguna elpiji non subsidi juga mengaku memiliki pengalaman berbeda terkait kualitas produk.

Kalau beli di pangkalan Natuna, biasanya lebih awet. Tapi entah kenapa, banyak orang tetap pilih beli dari luar,” ungkapnya.

Fenomena ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas usaha lokal sekaligus mengoptimalkan pendapatan daerah.

Diperlukan langkah strategis serta kolaborasi semua pihak agar distribusi elpiji tetap sehat dan berpihak pada kepentingan daerah.

Reporter: Baharullazi


Advertisement

Pos terkait