JAKARTA | Go Indonesia.id-Peremajaan armada kapal PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) memang sudah sepatutnya menjadi salah satu agenda prioritas dan mendapat perhatian khusus di era Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Pungkas Syamsul Bahri Awak Media Pinisi.co.id
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, konektivitas laut bukan sekadar masalah transportasi, melainkan urat nadi perekonomian, pertahanan, dan perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.(8/6/260
Berikut adalah beberapa alasan strategis mengapa peremajaan armada Pelni sangat krusial di era pemerintahan Prabowo Gibran saat ini:
1. Faktor Usia Kapal dan Keselamatan Pelayaran
Mayoritas kapal penumpang utama Pelni saat ini merupakan pengadaan dari dekade 1980-an dan 1990-an hasil kerja sama dengan galangan kapal Meyer Werft, Jerman.
Banyak armada yang telah beroperasi di atas 25 hingga 30 tahun.
Meskipun perawatan rutin (docking) terus dilakukan, usia besi yang menua tentu meningkatkan risiko teknis, biaya pemeliharaan yang membengkak, dan efisiensi bahan bakar yang menurun.
Peremajaan adalah langkah mutlak demi menjamin keselamatan (safety) dan kenyamanan penumpang di seluruh penjuru nusantara.
2. Selaras dengan Visi Astacita (Swasembada dan Logistik)
Pemerintahan Prabowo-Gibran mengusung visi Astacita yang salah satunya fokus pada penguatan ekonomi domestik dan swasembada.
Kapal Pelni tidak hanya mengangkut manusia, tetapi juga logistik (bapokting/bahan pokok penting) ke wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Dengan armada baru yang memiliki kapasitas ruang kontainer (container space) lebih besar dan sistem pendingin (reefer container) yang modern, distribusi pangan dan hasil bumi antar-pulau akan jauh lebih efisien.
Ini adalah kunci utama untuk menurunkan disparitas harga dan menekan inflasi di Indonesia Timur.
3. Efisiensi Energi dan Net Zero Emission
Dunia internasional, melalui International Maritime Organization (IMO), tengah memperketat regulasi mengenai emisi karbon dari kapal komersial.
Kapal-kapal tua Pelni umumnya masih menggunakan mesin dengan konsumsi bahan bakar yang relatif tinggi.
Pengadaan kapal baru dengan teknologi mesin modern yang ramah lingkungan (eco-friendly) akan membantu pemerintah menghemat subsidi BBM serta sejalan dengan komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission.
4. Menghidupkan Industri Galangan Kapal Dalam Negeri
Perhatian khusus dari Pemerintahan Prabowo-Gibran dalam peremajaan ini juga bisa menjadi momentum emas bagi industri maritim domestik.
Jika sebagian kontrak pembangunan kapal (terutama untuk ukuran perintis atau menengah) diserahkan kepada galangan kapal nasional, hal ini akan:
Membuka lapangan kerja massal.
Meningkatkan kapabilitas teknologi maritim anak bangsa.
Memutar roda ekonomi nasional sesuai dengan semangat kemandirian ekonomi.
Langkah Strategis yang Diharapkan:
Suntikan Penyertaan Modal Negara (PMN): Pemerintah perlu memberikan dukungan fiskal yang kuat melalui PMN khusus untuk korporasi Pelni yang dialokasikan langsung untuk uang muka atau pembangunan kapal baru.
Desain Kapal yang Multiguna (Dual-Use Vessel):
Mengingat fokus pemerintahan saat ini juga pada sektor pertahanan dan ketahanan nasional, kapal-kapal Pelni baru bisa didesain agar siap dikonversi menjadi kapal angkut pasukan atau rumah sakit terapung dalam kondisi darurat/bencana alam.
Modernisasi Sistem Digital:
Bersamaan dengan fisik kapal, pembenahan sistem tiketing, manajemen manifes, dan integrasi logistik berbasis digital harus diselesaikan agar pelayanan Pelni setara dengan standar transportasi modern lainnya.
Menurut Syamsul,menaruh perhatian khusus pada Pelni di era Prabowo-Gibran bukan sekadar urusan meremajakan aset BUMN, melainkan investasi jangka panjang untuk menyatukan kedaulatan maritim Indonesia. Merdeka di darat, harus merdeka dan digdaya juga di laut.
Penulis : Syamsul Bahri
Sumber : Pinisi.co.id




