BUNGO | Go Indonesia.id – Ada pengabdian yang tidak selalu terlihat. Ada perjuangan yang jarang diceritakan.Dan ada orang-orang yang tetap menjalankan amanah, meski penghargaan yang diterima belum sebanding dengan tanggung jawab yang dipikul.
Di Masjid Baitul Kudus, Sungai Samak, Dusun Rantau Embacang,Kabupaten Bungo empat pegawai sarak terus menjalankan pengabdian mereka untuk masyarakat.
Mereka adalah Imam Muhamad Amin, Khatib Syahril, Bilal Lubis, dan Modim Muhamad Yusuf, “ujar salah seorang pemerhati agama alimartoko pada awak media jumaat 11/09/2026.
Setiap hari,mereka menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat. Menghidupkan masjid, mengumandangkan azan, memimpin ibadah, menyampaikan khutbah, serta membantu masyarakat dalam berbagai urusan keagamaan dan sosial.
Mereka mungkin tidak memiliki seragam kebesaran.Tidak pula berada di balik meja dengan fasilitas yang lengkap.Namun dari tangan dan pengabdian merekalah salah satu denyut kehidupan agama di kampung terus dijaga.
Yang membuat hati terenyuh,empat petugas sarak tersebut saat ini hanya menerima honor sekitar Rp150 ribu per orang setiap bulan dari anggaran desa, “ucap alumni ponpes Nahdatul ulum sitiung ini.
*Nominal itu mungkin tidak banyak*
Namun mereka tetap datang ketika dibutuhkan. Tetap menjalankan tugas. Tetap berada di tengah masyarakat.
Mereka tidak berhenti mengabdi hanya karena penghargaan yang diterima terbatas.
*Justru di sinilah hati kita seharusnya tergerak*
Sebab penghargaan terhadap sebuah pengabdian tidak selalu harus menunggu pemerintah. Kepedulian dapat datang dari siapa saja.Dari masyarakat, dari tokoh-tokoh kampung, dari para dermawan, dan terutama dari putra-putri Embacang yang kini berada di perantauan.
*Untuk Para Perantau Embacang*
Bagi saudara-saudara kita yang kini jauh dari kampung halaman, mungkin kehidupan telah membawa kita ke berbagai tempat.
Ada yang mencari rezeki di kota besar. Ada yang bekerja di daerah lain. Ada pula yang mungkin sudah bertahun-tahun tidak pulang karena tuntutan kehidupan.
Tetapi sejauh apa pun kaki melangkah, kampung halaman tetap menjadi tempat di mana kenangan dan nilai-nilai kehidupan pertama kali ditanamkan.
Dan Masjid Baitul Kudus adalah salah satu bagian dari perjalanan itu.
*Di sana, suara azan masih berkumandang*
Di sana, masyarakat masih melaksanakan ibadah.
Dan di sana pula, masih ada orang-orang yang dengan sederhana menjaga kehidupan keagamaan masyarakat.
Mungkin selama ini kita sering mengirim bantuan untuk pembangunan masjid, kegiatan sosial, keluarga, atau berbagai keperluan kampung.
*Tidak ada yang salah dengan itu*
Namun kali ini, mari kita sisihkan sedikit rezeki untuk orang-orang yang selama ini menjaga kehidupan agama di kampung kita sendiri.
*Tidak harus besar*
Rp50 ribu, Rp100 ribu, Rp200 ribu, atau sesuai kemampuan.
Jika sedikit dari satu orang dikumpulkan bersama oleh banyak orang, insyaallah akan menjadi sesuatu yang sangat berarti.
*Bukan Sekadar Donasi*
Bantuan untuk para pegawai sarak bukan hanya tentang uang.
Ini adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang telah memilih jalan pengabdian.
Ini tentang mengatakan kepada mereka:
“Kami melihat perjuangan Bapak. Kami menghargai pengabdian Bapak. Dan kami tidak ingin Bapak merasa berjalan sendirian.”
Bayangkan betapa bahagianya mereka jika suatu hari mengetahui bahwa anak-anak Embacang yang berada jauh di perantauan masih mengingat dan peduli kepada mereka.
Mungkin bagi kita jumlahnya tidak seberapa.
Tetapi bagi mereka, kepedulian itu bisa menjadi penyemangat untuk terus mengabdi.
Karena itu, mari bersama-sama membuka hati.
Untuk para perantau Embacang di mana pun berada, dan bagi siapa saja yang memiliki kepedulian, mari kita bergandengan tangan membantu meningkatkan perhatian dan kesejahteraan empat petugas sarak Masjid Baitul Kudus.
Bantuan dapat disalurkan melalui jalur yang disepakati masyarakat atau panitia penggalangan dana setempat, dengan pengelolaan yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
*Tidak ada paksaan.
Tidak ada kewajiban*
Hanya sebuah kesempatan untuk berbagi kebaikan kepada mereka yang selama ini telah memberikan waktunya untuk masyarakat.
Sebab suatu saat nanti, mungkin bukan harta yang paling dikenang dari kita.
Tetapi kebaikan apa yang pernah kita tinggalkan di kampung halaman.
Dan mungkin, salah satu kebaikan itu adalah membantu mereka yang selama ini menjaga masjid, menjaga syariat, dan menjaga kehidupan agama masyarakat Embacang.
Jangan biarkan pengabdian mereka berjalan sendirian.
Mari kita jaga mereka, sebagaimana mereka selama ini menjaga kehidupan keagamaan kampung kita.
Semoga setiap rupiah yang disisihkan menjadi amal jariyah, mempererat silaturahmi para perantau dengan kampung halaman, dan menjadi keberkahan bagi para pemberi maupun penerima, “tutup alimartoko
Amat/ Jurnalis Go Indonesia






