Forum Sekar Bali Ritual Mejaya-Jaya di Pura Jagatnatha Karangasem

1 3261

KARANGASEM | Go Indonesia.id – Pengurus Forum Semeton Karangasem atau Forum Sekar Bali periode 2025-2029 melaksanakan ritual Mejaya-jaya di Pura Jagatnatha Karangasem, Jumat (5/6/2026).

Ritual tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengukuhan kepengurusan Forum Sekar Bali yang digelar di Puri Karangasem. Ketua Umum Pengurus Forum Sekar Bali, Dr. I Made Suniastha Amerta, hadir didampingi Sekjen Forum Sekar Bali, I Gusti Made Subasga.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Suniastha menjelaskan, prosesi Mejaya-jaya memiliki makna mendalam dalam tradisi Hindu Bali. Menurut dia, setiap amanah organisasi tidak hanya dipertanggungjawabkan secara sekala atau lahiriah, tetapi juga secara niskala atau spiritual.

β€œKarena itu, sebelum melangkah menjalankan tugas organisasi, kami terlebih dahulu memohon tuntunan dan restu agar setiap pikiran, perkataan, dan tindakan yang dilakukan senantiasa berada pada jalan dharma,” kata Suniastha di Amlapura, Jumat.

Forum Sekar Bali, kata Suniastha, lahir dari semangat persaudaraan, kebersamaan, dan kecintaan terhadap Bali. Sejak berdiri pada 2005, organisasi ini menjadi wadah untuk mempererat pasemetonan warga Karangasem di berbagai daerah.

Selain itu, Forum Sekar Bali juga diharapkan menjadi ruang bertemunya gagasan, pengalaman, dan pengabdian para anggotanya.

Menurut Suniastha, jejak pengabdian para dewan pembina, dewan penasihat, dewan pakar, dan pengurus terdahulu merupakan fondasi penting bagi perjalanan organisasi.

Memasuki periode 2025-2029, Forum Sekar Bali dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dinamika ekonomi, hingga isu keberlanjutan menuntut organisasi untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

β€œKami berkomitmen membangun organisasi yang semakin inklusif, profesional, dan berdampak. Organisasi yang mampu mempererat persaudaraan antaranggota, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, serta berkontribusi dalam pengembangan ekonomi, pendidikan, budaya, dan pelestarian lingkungan berlandaskan filosofi Tri Hita Karana,” ujar Suniastha.

Filosofi Tri Hita Karana dikenal sebagai salah satu konsep dasar dalam kehidupan masyarakat Bali. Konsep ini menekankan harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan. UNESCO juga mencatat Tri Hita Karana sebagai filosofi yang menyatukan ranah spiritual, dunia manusia, dan alam dalam lanskap budaya Bali.

Suniastha mengatakan, pemilihan Karangasem sebagai lokasi Mejaya-jaya bukan tanpa alasan. Karangasem disebut sebagai tanah leluhur yang kaya nilai sejarah, spiritualitas, dan kebudayaan.

Karangasem sendiri merupakan kabupaten di ujung timur Bali dengan ibu kota Amlapura. Wilayah ini dikenal memiliki sejumlah situs penting, termasuk Pura Besakih yang disebut sebagai pura terbesar di Bali.

β€œDari Karangasem kita belajar bahwa kemajuan hanya akan bermakna apabila tetap berpijak pada akar tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal,” kata Suniastha.

Setelah prosesi Mejaya-jaya, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan megibung di Puri Gede Karangasem. Tradisi ini, kata Suniastha, mengajarkan kesederhanaan, kebersamaan, kesetaraan, dan solidaritas.

β€œTidak ada sekat, tidak ada perbedaan. Semua duduk bersama sebagai keluarga besar yang dipersatukan oleh semangat persaudaraan,” ujarnya.

Dalam tradisi Karangasem, megibung dikenal sebagai kegiatan makan bersama yang menekankan kebersamaan dan saling berbagi. Institut Seni Indonesia Bali mencatat, megibung menjadi salah satu ciri khas masyarakat Karangasem dan masih kerap dijumpai dalam kegiatan adat maupun keagamaan.

Rangkaian kegiatan juga dilanjutkan dengan kunjungan budaya ke Puri Agung Karangasem. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memahami dan menghargai warisan sejarah yang membentuk identitas masyarakat Karangasem dan Bali.

Suniastha menegaskan, Sekar bukan sekadar nama organisasi. Menurut dia, lima huruf dalam kata SEKAR dimaknai sebagai nilai dasar organisasi, yakni Solidaritas, Empati, Komitmen, Adaptasi, dan Responsif.

Solidaritas dimaknai sebagai semangat persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan. Empati menjadi dasar untuk memahami dan peduli terhadap sesama. Komitmen berarti tekad menjalankan tanggung jawab secara konsisten dan berintegritas.

Adapun Adaptasi dimaknai sebagai kesiapan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, teknologi, dan dinamika lingkungan. Sementara Responsif berarti kepekaan dalam menjawab persoalan, aspirasi, dan kebutuhan masyarakat.

β€œDengan solidaritas yang mempersatukan, empati yang menggerakkan, komitmen yang menguatkan, adaptasi yang memajukan, dan responsivitas yang melayani, Forum Sekar Bali hadir untuk berkarya, mengabdi, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Suniastha.

Ia berharap kepengurusan periode 2025-2029 menjadi momentum untuk memperkuat pasemetonan, memperluas manfaat organisasi, khususnya bagi masyarakat Karangasem, serta meninggalkan warisan pengabdian bagi generasi berikutnya.

β€œSaya percaya, kekuatan organisasi tidak hanya terletak pada struktur atau program kerja, melainkan pada kualitas kebersamaan orang-orang yang ada di dalamnya,” ujarnya.

Pengukuhan Pengurus Forum Sekar Bali periode 2025-2029 dilakukan oleh Dewan Pembina sekaligus Manggala Puri Karangasem, Anak Agung Bagus Partha Wijaya, di Puri Karangasem.

Anak Agung Bagus Partha Wijaya berharap Forum Sekar Bali mampu menjalankan program yang telah disusun. Ia juga mendorong organisasi ini memperkuat solidaritas untuk membangun Karangasem melalui kolaborasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

β€œKami harapkan keberadaan Forum Sekar Bali mampu mengimplementasikan program-program yang disusun. Termasuk menjalin solidaritas membangun Karangasem lebih maju dengan berkolaborasi bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya,” katanya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Asisten II Setda Karangasem yang mewakili Bupati Karangasem, perwakilan Kesbangpol Karangasem, Bappeda Karangasem, serta Bendesa Madya Majelis Desa Adat Kabupaten Karangasem.

Reporter : Kadek


Advertisement

Pos terkait