Gubernur Koster: Transformasi Digital Harus Perkuat Budaya, Bukan Hapus Kearifan Lokal

IMG 20260719 WA0335 scaled

BANDUNG | Go Indonesia.Id _Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI) harus menjadi alat untuk memperkuat budaya serta kearifan lokal. Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara utama dalam konferensi internasional di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Koster tampil di hadapan peserta 5th International Conference on Digital Humanities 2026, Sabtu (18/7/2026). Konferensi bertema “AI, Digital Ethics, and the Future of Geotourism” itu mempertemukan akademisi, peneliti, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara.

Bacaan Lainnya

Advertisement

“Kemajuan teknologi dan transformasi digital tidak boleh menerkam kearifan lokal, tetapi harus mampu menguatkan identitas budaya dan kearifan lokal itu sendiri,” ujar Koster dalam forum tersebut.

Gubernur Koster menjelaskan, ekosistem digital di Bali dibangun dengan berpijak pada visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Visi itu menekankan pembangunan yang mengharmoniskan inovasi teknologi dengan pelestarian alam dan budaya.

Menurutnya, kecanggihan teknologi kerap kali justru memutus hubungan masyarakat dengan akar budayanya. Oleh karena itu, digitalisasi di Bali diarahkan untuk mendokumentasikan, melestarikan, dan mempromosikan kekayaan budaya ke panggung dunia.

“Teknologi jangan sampai memutus hubungan kita dengan akar budaya. Justru lewat teknologi, kita bisa memperkenalkan kearifan lokal ke seluruh dunia,” tegasnya.

Koster juga memaparkan sejumlah kebijakan Pemprov Bali yang mengintegrasikan AI dan platform digital dengan pariwisata berkualitas serta berkelanjutan. Pendekatan itu diyakini mampu menjadikan Bali sebagai model pembangunan daerah yang tetap mempertahankan jati diri di tengah derasnya arus digital.

Kehadiran Gubernur Bali sebagai pembicara kunci di ITB sekaligus memperkuat posisi Bali dalam diskursus global tentang etika digital. Forum ini juga menjadi ruang memperkenalkan paradigma pembangunan Bali yang berbasis budaya kepada komunitas internasional.

Reporter: Kadek


Advertisement

Pos terkait