JAKARTA | Go Indonesia.Id _Di tengah derasnya arus digital yang mengubah cara generasi muda berpikir, berkomunikasi, dan berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa, Himpunan Mahasiswa Mandailing Natal Jakarta dan Sekitarnya (HM Madina Jakarta) memilih menghadirkan ruang belajar yang tidak sekadar seremonial.
Melalui Seminar Kepemimpinan yang dirangkaikan dengan Pelantikan Pengurus Periode 2026-2027, HM Madina Jakarta mempertemukan lebih dari seratus mahasiswa Mandailing Natal dengan dua putra terbaik daerah yang telah membuktikan kiprahnya di tingkat nasional pada Ahad, (28/06/2026).
Bertempat di Aula Blandongan, Gedung Utama Lantai 4 Kantor Wali Kota Tangerang Selatan, seminar mengangkat tema “Peran Strategis Pemuda dan Mahasiswa Mandailing Natal dalam Menjawab Tantangan Kepemimpinan, Demokrasi, dan Pembangunan Daerah di Era Digital.”
Dua narasumber yang hadir adalah Ray Rangkuti, Direktur Lingkar Madani (LIMA) sekaligus pengamat politik nasional, serta Mulia P Nasution, sosok yang dikenal sebagai salah satu pengawal reformasi keuangan negara Indonesia.
Kehadiran keduanya menjadi bukti bahwa Mandailing Natal memiliki banyak sumber daya manusia yang mampu berkontribusi di tingkat nasional tanpa melupakan akar daerahnya.
Dalam pemaparannya, Mulia P Nasution mengingatkan bahwa kecerdasan saja tidak cukup untuk membawa perubahan.
“Kompetensi harus dibarengi dengan karakter. Tanpa karakter, kompetensi justru berpotensi merusak,” tegasnya.
Ia mengajak mahasiswa agar tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga mempersiapkan diri menjadi solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi daerah. Menurutnya, Mandailing Natal telah melahirkan banyak tokoh besar di berbagai bidang. Karena itu, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk meneruskan estafet pengabdian tersebut melalui integritas, kapasitas, dan kepedulian terhadap kampung halaman.
Sementara itu, Ray Rangkuti mengajak peserta kembali mengingat jati diri masyarakat Mandailing yang sejak dahulu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai ukuran utama dalam kehidupan.
Menurutnya, budaya intelektual itulah yang membentuk keberanian seseorang untuk menyampaikan kebenaran meskipun berhadapan dengan kekuasaan.
Dalam sesi berbagi pengalaman, Ray juga menceritakan keterlibatannya dalam gelombang Reformasi 1998, termasuk pengalamannya memimpin massa memasuki Gedung DPR sebagai bagian dari perjuangan menuntut perubahan di Indonesia.
Ia berpesan agar mahasiswa tidak hanya memperbanyak pengetahuan, tetapi juga memperkaya pengalaman hidup.
“Potensi terbesar Indonesia hari ini justru banyak berada di daerah. Karena itu, mahasiswa harus memberi perhatian lebih kepada daerahnya sendiri,” ujarnya.
Menutup pemaparannya, Ray meninggalkan pesan yang disambut antusias para peserta.
“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang salah, meskipun yang dihadapinya adalah penguasa.”
Selain seminar, kegiatan tersebut juga menjadi momentum pelantikan pengurus baru HM Madina Jakarta Periode 2026–2027 yang dipimpin oleh Rabiatul Adawiyah.
Sebelum prosesi pelantikan berlangsung, salah satu pendiri HM Madina Jakarta, M. Syarif Nasution, mengingatkan bahwa organisasi ini dibangun sebagai ruang kaderisasi sekaligus tempat mahasiswa Mandailing Natal belajar memimpin dan mengabdi.
“Jaga nilai-nilai yang menjadi dasar berdirinya HM Madina Jakarta. Kepengurusan boleh berganti, tetapi semangat pengabdian kepada organisasi, daerah, dan masyarakat harus tetap hidup,” pesannya.
Ketua Pelaksana kegiatan, Dinda Sabilah, berharap seminar dan pelantikan ini menjadi titik awal lahirnya semangat baru dalam menjalankan roda organisasi.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi awal yang membakar semangat pengurus baru untuk melanjutkan estafet kepemimpinan, memperkuat solidaritas, serta menghadirkan program-program yang benar-benar bermanfaat bagi mahasiswa Mandailing Natal,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum HM Madina Jakarta Periode 2026–2027, Rabiatul Adawiyah, menegaskan bahwa kepemimpinan tidak dapat dibangun oleh satu orang, melainkan melalui kerja sama seluruh pengurus.
“Saya percaya keberhasilan organisasi bukan karena hebatnya seorang ketua, tetapi karena kuatnya kolaborasi seluruh pengurus. HM Madina Jakarta harus menjadi rumah bersama yang melahirkan gagasan, karya, dan pengabdian bagi Mandailing Natal,” katanya.
Rabiatul juga memperkenalkan nama kabinet kepengurusannya, “Rondang Ni Bulan.” Dalam budaya Mandailing, istilah tersebut berarti cahaya bulan, yang menjadi simbol harapan agar HM Madina Jakarta mampu menjadi cahaya yang menghadirkan manfaat, inspirasi, dan semangat bagi mahasiswa Mandailing Natal serta masyarakat luas.
Prosesi pelantikan pengurus dilakukan secara langsung oleh Dr. Mulia P Nasution, menandai dimulainya estafet kepemimpinan baru di tubuh HM Madina Jakarta.
Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Badan Penghubung Provinsi Sumatera Utara, Ketua DPD GMNI Banten sekaligus senior HM Madina Jakarta Zein Nasution, Ketua KNPI Kota Tangerang Selatan, Wakil Ketua I DPP IKANAS M. Fakhri Nasution, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara (IMSU) Lingga Pagayumi Nasution, para alumni, serta lebih dari 100 mahasiswa Mandailing Natal dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta dan sekitarnya.
Melalui seminar ini, HM Madina Jakarta tidak hanya melantik kepengurusan baru, tetapi juga menegaskan komitmennya untuk menjadi ruang kaderisasi yang melahirkan generasi muda Mandailing Natal yang berintegritas, kritis, dan siap berkontribusi bagi pembangunan daerah maupun Indonesia.
Redaksi







