Laku Spiritual Semakin Mendesak Untuk Pemimpin dan Pejabat Publik Mengatasi Korupsi di Dalam Korupsi

0ab 8 e1787988504430

Oleh : Jacob Ereste

BANTEN | Go Indonesia.id-Spiritualitas itu dasarnya kejujuran, keikhlasan, kesabaran, penuh kasih dan sayang, rendah hati, bersahaja, penuh pengertian, pemaaf dan mau mendengar dan memahami pemikiran serta pendapat orang lain, kendati tidak setuju dengan pemikiran dan pendapat tersebut.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Jadi, satu saja dari prasyarat itu tidak terpenuhi, maka dengan sendirinya pemahaman dan pengertian spiritualitas itu gugur dengan, untuk kemudian harus disempurnakan kembali. Sehingga tiga pilar utama dari spiritualitas yang harus di tegakkan oleh etika (tradisi, budaya dan adat istiadat yang bernilai baik), moral yang membangun suasana hati tetap bersih dan suci, lalu jiwa yang tenang dan nyaman tanpa ambisi dan beban yang bersifat duniawi dapat meneguhkan akhlak mulia manusia yang diperoleh langsung dari Tuhan, sehingga manusia yang bersangkutan layak disebut khalifatullah — wakil Tuhan — di bumi yang langsung dititahkan dari langit.(1/9/26)

Itulah sebabnya untuk mereka yang telah mencapai level tertentu dalam kematangan spiritual dapat memahami suasana di langit yang memiliki tujuh lapis itu yang acap disebut dalam bahasa agama adalah sidratul muntahan.

Sidratul muntaha dalam filosofis Jawa dipahami sebagai puncak suluk. Dan sebagai tempat dari apa yang disebut lapisan langit ke tujuh itu bukan tempat dalam pengertian fisik, karena langit ke tujuh itu adalah suasana hati yang paling bening dan hening, sangat menyejukkan.

Acap kali juga, sidratul muntaha dipahami secara ilmiah semacam batas ilmu yang dimiliki manusia, sehingga dapat dimengerti tidak sebatas pengetahuan dan keyakinan. Dalam pemahaman spiritualitas, sidratul muntaha itu semacam gapura terakhir manusia sekelas Nabi Muhammad SAW bertemu Allah SWT, sedangkan dalam pengertian filsafat suluk adalah batas batas dari ego manusia menjadi musnah, karena memang hendak dilenyapkan.

Jadi suluk dalam filosofi Jawa itu adalan “jalan pulang” dengan laku batin (spiritual). Sedangkan dalam terminologi Islam acap dikatakan zikir muraqabah dan muhasabah . Stau suluk “Nrimo ong pandum” yang meliputi zuhud, tawakkal dan rido atau ikhlas.Atau suluk “Sungkem marang Gusti” yang dimaksudkan untuk muhasabah dan taubat. Inti dari semua itu adalah upaya mengubah diri dari dalam diri sendiri. Katena itu, pemahaman tentang laku spiritual bangsa Timur bersifat ke dalam, sedang laku spiritual bangsa Barat bersifat ke luar, sehingga pengalaman serta kecerdasan dan pengetahuan spiritual bangsa Timur lebih cepat dan praktis menyentuh relung batin dan merasuk pada kedalaman jiwa yang bersemayam di lubuk hati.

Spiritualitas bagi manusia — terutama untuk para pemimpin dan pejabat publik yang harus bertanggung jawab atas semua kebijakan, serta keputusannya yang terkait dengan kepentingan serta hak rakyat banyak — pengetahuan serta kecerdasan spiritual itu sangat penting dan mutlak diperlukan guna menenteramkan hati agar tidak bertindak jahat serta menjinakkan pikiran supaya tidak berlaku curang ram khianat pada rakyat.

Sebab berbagai kerusakan di muka bumi ini — bukan hanya di negeri kita saja, meski kondisinya lebih parah karena meliputi material (alam dan lingkungan) tapi juga spiritual yang meliputi etika, moral dan akhlak yang bejad. Itulah sebabnya, tindak kejahatan korupsi sulit diberantas, bahkan cenderung semakin marak dan meningkat dengan berbagai versi dan cara korupsi yang terbaru, seperti menggelapkan barang bukti dari tindak pidana korupsi itu sendiri.

Zahra /Jurnalis Go Indonesia


Advertisement

Pos terkait