SOLOK | Go Indonesia.id– Keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti bertani. Justru dari lahan yang terbatas, tiga warga Jorong Kapalo Koto, Nagari Saok Laweh, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, membuktikan bahwa ketekunan mampu mengubah lahan kurang produktif menjadi sumber penghasilan.
Adalah Albizar, Oka, dan Ajo, tiga petani yang secara bersama-sama menggarap lahan sekitar seperempat hektare untuk membudidayakan sebanyak 2.700 batang tanaman cabai.
Saat Go Indonesia berkunjung, Senin (15/9/2026), hamparan tanaman cabai tersebut terlihat tumbuh subur. Buah cabai mulai bermunculan dengan lebat dan sebagian tak lama lagi siap dipanen.
Di tengah keterbatasan lahan, ketiganya tetap tekun melakukan perawatan. Mereka meyakini, hasil maksimal hanya dapat diperoleh melalui perawatan yang rutin dan konsisten.
Oka mengatakan, cabai yang mereka tanam merupakan varietas Lolay, dengan jarak tanam sekitar 60 sentimeter. Saat ini, tanaman tersebut telah memasuki usia kurang lebih empat bulan.
“Untuk pemupukan, kami menggunakan sistem pupuk cor satu kali dalam seminggu. Sedangkan penyemprotan untuk mengendalikan hama dilakukan sekitar dua kali dalam seminggu, tergantung kondisi tanaman,” ujar Oka.
Menurutnya, budidaya cabai tersebut menjadi salah satu langkah untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya kurang produktif agar memiliki nilai ekonomi.
Hal senada disampaikan Albizar. Ia mengatakan keterbatasan lahan tidak menyurutkan niat mereka untuk terus mengembangkan pertanian.
“Meski lahan kami relatif sempit, lahan tidur yang ada akan kami manfaatkan sebaik mungkin. Tidak hanya cabai, ke depan kami juga ingin mencoba tanaman timun maupun jagung,” katanya.
Untuk hasil panen perdana, cabai tersebut sementara dipasarkan secara lokal guna memenuhi kebutuhan masyarakat di lingkungan sekitar.
“Ini tanam perdana kami. Alhamdulillah, hasilnya cukup memuaskan dan mendapat respons baik dari masyarakat. Insyaallah, kami berencana mengulang budidaya cabai ini pada musim tanam berikutnya,” ungkap Albizar dengan penuh optimisme.
Namun, di balik keberhasilan tersebut, ketiga petani masih menghadapi sejumlah kendala, terutama biaya sarana produksi pertanian yang cukup besar.
Ajo berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat memberikan perhatian dan pendampingan kepada petani kecil, terutama dalam membantu kebutuhan pupuk, pestisida, alat penyemprotan, mulsa hingga dukungan permodalan.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah. Kalau biaya sarana produksi pertanian kami bisa dibantu, termasuk dukungan modal, tentu kami akan semakin bersemangat mengembangkan usaha tani ini,” tutur Ajo.
Menurutnya, dukungan kepada petani kecil bukan semata-mata untuk kepentingan mereka bertiga. Lebih jauh, hal itu dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong masyarakat memanfaatkan lahan yang tersedia agar lebih produktif.
Kisah Albizar, Oka, dan Ajo menjadi bukti bahwa seperempat hektare bukan batas untuk menghasilkan sesuatu yang berarti. Dengan ketekunan, perawatan yang konsisten, serta dukungan yang tepat, lahan terbatas pun mampu disulap menjadi lahan produktif dan sumber penghasilan.
Dari lahan sederhana di Kapalo Koto itu, tiga petani tersebut tidak sekadar menanam cabai. Mereka sedang menanam harapan, membangun kemandirian, dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Amat/Jurnalis Go Indonesia







