SOLOK | Go Indonesia.id– Menjadi seorang pendidik bukan sekadar berdiri di depan kelas, menyampaikan pelajaran, lalu pulang setelah bel berbunyi. Di balik senyum dan kesabaran seorang guru, tersimpan tanggung jawab besar untuk menanamkan ilmu, membentuk karakter, sekaligus menyiapkan generasi penerus bangsa.
Di sejumlah sekolah di Kabupaten Solok, kisah pengabdian itu terus berjalan. Dari PAUD, TK hingga sekolah dasar, para pendidik hadir dengan ketulusan, meski tidak semuanya berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Ada nada lirih yang terkadang tak terdengar. Tentang pengabdian yang panjang, kebutuhan hidup yang terus berjalan, serta harapan agar hak dan kesejahteraan mereka mendapat perhatian yang layak.
Sebab, menjadi guru bukan hanya tentang mengajar. Ada waktu, tenaga, pikiran dan hati yang dicurahkan untuk anak-anak bangsa. Mereka datang ketika pagi masih menyisakan embun, menyambut anak-anak dengan senyum, lalu pulang membawa lelah yang sering kali disimpan sendiri.
Guru adalah cahaya penerang di tengah gelapnya perjalanan. Mereka mungkin tidak selalu terlihat dalam gemerlap keberhasilan, tetapi dari tangan merekalah banyak cita-cita mulai tumbuh.
Karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan dan hak tenaga pendidik, khususnya mereka yang belum berstatus ASN, bukan semata persoalan pribadi. Ini adalah bagian dari ikhtiar menjaga keberlangsungan pendidikan dan menghargai sebuah pengabdian.
Sebab pendidikan yang kuat tidak hanya membutuhkan gedung dan fasilitas, tetapi juga membutuhkan pendidik yang tenang, dihargai dan sejahtera.
Di balik setiap anak yang kelak berhasil, hampir selalu ada seorang guru yang pernah bersabar mengajarinya membaca, menulis, mengenal kebaikan dan berani bermimpi.
Mereka adalah cahaya yang mungkin tak banyak meminta untuk dikenang, tetapi jasanya akan terus hidup dalam setiap langkah generasi yang mereka didik.
Amat/Jurnalis Go Indonesia







