SENYERANG | Go Indonesia.Id _Desa Lumahan zselama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu daerah penghasil komoditas perkebunan rakyat yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Namun di balik aktivitas petani yang setiap hari bekerja dari pagi hingga petang, masih tersimpan berbagai persoalan yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab.
Harga pinang yang naik turun membuat masyarakat harus berjuang keras mempertahankan pendapatan keluarga. Kondisi tersebut semakin berat ketika berbagai kebutuhan operasional perkebunan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Tidak hanya persoalan harga, masyarakat juga menyoroti belum terealisasinya sejumlah program yang dinilai sangat dibutuhkan petani, salah satunya normalisasi parit dan saluran air yang menjadi penunjang utama kawasan perkebunan.
Berdasarkan hasil investigasi dan keterangan sejumlah warga, keberadaan saluran air yang mengalami pendangkalan dinilai berdampak terhadap produktivitas lahan. Saat musim hujan, genangan air berpotensi merusak tanaman, sementara saat kemarau distribusi air tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Warga mengaku telah berulang kali berharap adanya langkah nyata dari pemerintah dan instansi terkait. Namun hingga kini, sebagian masyarakat merasa kebutuhan tersebut belum mendapatkan perhatian yang maksimal.
“Kami tidak meminta sesuatu yang mewah. Kami hanya berharap pemerintah melihat kondisi kami secara langsung. Petani adalah bagian dari masyarakat yang selama ini ikut menggerakkan ekonomi daerah,” ujar salah seorang warga kepada Goindonesia.id.
Menurut warga, pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya terlihat di pusat kota, tetapi juga harus dirasakan hingga ke pelosok desa yang menjadi sumber produksi komoditas perkebunan daerah.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Pemerintah Provinsi Jambi, hingga pemerintah pusat dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap kebutuhan petani, khususnya dalam pembangunan infrastruktur pendukung sektor perkebunan rakyat.
Normalisasi parit yang menjadi harapan masyarakat dinilai bukan sekadar proyek pembangunan biasa. Bagi petani, hal tersebut merupakan kebutuhan mendasar yang berkaitan langsung dengan produktivitas kebun dan keberlangsungan ekonomi keluarga.
Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, para petani tetap bekerja dan bertahan. Mereka tetap menjemur pinang, merawat kebun, serta menjaga produktivitas lahan meski berbagai persoalan belum sepenuhnya terselesaikan.
Kini suara dari Desa Lumahan kembali disampaikan kepada para pemangku kebijakan. Bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengetuk hati dan nurani agar pembangunan dapat berjalan lebih merata serta benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat di lapangan.
Sebab di balik setiap butir pinang yang dijemur oleh petani, terdapat harapan tentang pendidikan anak-anak mereka, kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, dan masa depan yang ingin diperjuangkan.
Masyarakat berharap pemerintah hadir bukan hanya melalui janji dan program di atas kertas, melainkan melalui langkah nyata yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat kecil yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
“Kami hanya ingin didengar dan diperhatikan. Jangan sampai petani hanya diingat saat dibutuhkan, tetapi dilupakan saat membutuhkan perhatian. Karena kesejahteraan petani adalah bagian dari kemajuan daerah dan bangsa,” pungkas salah seorang warga Desa Lumahan kepada Goindonesia.id.
(Investigasi Jurnalis Apriandi | Goindonesia.id)







