Saya Jhon Anari -Menjawab Kristian Griapon : Ini Tulisan Jhon Anari ,Apakah Pantas Disebut Pejuang Kemerdejkaan Papua atau Bagian dari Provokator Devide et Impera

1d 31

Oleh: Jhon Anari, Diplomat West Papua (WPLO) – Menjawab tuduhan Divide et Impera

PAPUA | Go Indonesia.id-Kristian Griapon bertanya: Apakah Jhon Anari pantas disebut pejuang kemerdekaan Papua? Atau provokator divide et impera?

Bacaan Lainnya

Advertisement

Pertanyaan itu bagus. Tapi harus dibalik: Siapa yang sebenarnya melakukan divide et impera ketika Benny Wenda sudah turun tahta dari ULMWP tapi paksa diri buat Kongres ULMWP tandingan di Jayapura yang disponsor aparat keamanan Indonesia?

Mari kita nilai dengan fakta hukum, bukan dengan sentimen.

I. APA ITU DEVIDE ET IMPERA YANG SESUNGGUHNYA?

Divide et Impera artinya pecah belah lalu kuasai. Taktik kolonial klasik Belanda, Inggris, Amerika, Indonesia.

Ciri-cirinya:
1. Buat organisasi tandingan dari organisasi yang sudah ada
2. Beri izin Tempat, gedung, keamanan oleh aparat kolonial yang seharusnya bubarkan semua kegiatan Papua merdeka
3. Buat rakyat bingung: Mana ULMWP yang asli?
4. Dunia internasional bilang: Oh ULMWP pecah dua, tidak bersatu, jadi MSG dan PBB tidak perlu dengar.

Sekarang tanya: Siapa yang lakukan itu?

ULMWP hasil Kongres II di Vanuatu 2023 sudah putuskan kepemimpinan kolektif, harus berganti, tidak boleh presiden seumur hidup. Itu AD/ART. Benny Wenda sudah habis masa jabatan. Secara aturan dia sudah turun tahta.

Tapi tiba-tiba dia buat Kongres tandingan di Jayapura. Di Jayapura! Kota di mana setiap pengibaran Bintang Kejora dikejar, setiap aksi Mama Papua di Taman Imbi dibubarkan, setiap Kongres Dewan Adat Papua diancam. Tapi Kongres dia difasilitasi aparat keamanan Indonesia?

Pembaca yang menilainya: Itu divide et impera atau bukan?

Saya Jhon Anari hanya menulis fakta itu. Apakah menulis fakta = provokator divide et impera? Atau yang buat kongres tandingan dengan sponsor aparat yang provokator divide et impera?

II. JIKA SAYA JHON ANARI PROVOKATOR, MENGAPA SAYA JOHN ANARI SERANG TIGA KEKUATAN BESAR: AMERIKA, BELANDA, INDONESIA?

Seorang provokator yang dibayar aparat biasanya akan serang sesama Papua saja. Akan adu domba Papua dengan Papua.

Tapi lihat semua tulisan Saya Jhon Anari Sampai Saat Ini:

– Saya gugat Amerika Serikat, Belanda dan Indonesia di PBB tentang Roma Agreement 30 September 1962
– Dia minta cabut Resolusi PBB 1752 dan 2504
– Melalui Artikel saya bongkar konspirasi CIA, kejatuhan Soekarno, Freeport dan Pepera 1969, dengan data George McBundy Memo, Rockefeller $886 Juta, Forbes Wilson, Jan van Cruisen, Pangeran Bernhard
– Saya bongkar IB Rp, FUNDWI $30 Juta, mandat 25 tahun 1 Mei 1963 – 1 Mei 1988, proklamasi Dr. Thom Wanggai 14 Desember 1988
– Saya lobi Pelapor Khusus PBB sampai keluar Laporan 18 November 2024 yang menyebut Indonesia must recognise Indigenous Peoples, 127.031 pengungsi, colonial-era transmigration threatens cultural survival, slow-phased extermination
– Saya kirim Kawan Ronal Waromi ke Komisi IV Dekolonisasi Ke-81 6 Oktober 2026 di New York yang bikin Indonesia point of order

Apakah itu kerjaan provokator? Provokator mana yang berani demo di PBB dengan tuntutan pelanggaran hukum PBB oleh Amerika, Belanda, Indonesia demi Grasberg? https://youtu.be/rontrPNqnmQ

Provokator divide et impera yang dibayar aparat tidak akan pernah berani tuntut Amerika dan Indonesia di ICJ. Dia akan hanya bicara HAM terus dari 2014-2026 yang hasilnya nol, karena HAM adalah urusan dalam negeri sesuai Pasal 2 ayat 7 yang menguntungkan Indonesia.

Pembaca yang menilainya.

III. PELAJARAN DARI THEYS ELUAY: SIAPA KAWAN KOPASSUS?

Sekarang Benny Wenda sudah turun tahta tapi ngotot angkat diri lagi. Socrates Yoman dan Buchtar Tabuni ngotot angkat dia lagi yang sudah turun tahta. Mereka buat kongres tandingan di Jayapura disponsor aparat keamanan Indonesia.

Pertanyaan Jhon Anari sederhana: Bagaimana mungkin pemimpin Papua Merdeka buat kongres di Jayapura disponsor TNI/Polri/BIN? Di kota yang semua aksi merdeka dilarang?

Jika itu bukan ada udang di balik batu, apa namanya?

Itu yang Jhon Anari sebut: Hati-hati dengan orang ambisi memimpin Papua Merdeka karena pasti ada udang di balik batu. Udangnya tiga: Uang donor HAM, perlindungan aparat, dan jabatan presiden seumur hidup.

Apakah mengungkap udang di balik batu = provokator? Atau yang simpan udang itu yang provokator?

IV. APAKAH PEJUANG KEMERDEKAAN HARUS DIAM LIHAT PERPANJANGAN PENDERITAAN?

Kristian Griapon bilang pembaca yang menilai.

Baik, mari pembaca nilai 12 tahun terakhir 2014-2026:

– Kubu HAM: Tiap tahun Vanuatu bicara HAM di PBB. Hasilnya? OAP dari 96% tahun 1970 jadi 42% tahun 2026. Jayapura 12%, Sorong 18%, Merauke 15%, Timika 20%. Migran banjir masuk lewat Kapal Pelni Dobonsolo, Sinabung, Ciremai dan Lion Air tiap jam. 127.031 orang mengungsi di hutan. Itu data PBB sendiri. Apakah itu hasil perjuangan?

– Kubu Dekolonisasi WPLO: Tidak bicara HAM. Bicara dekolonisasi. Cabut 1752 dan 2504. Gugat Roma Agreement 30 September 1962 di ICJ. Kembalikan West Papua ke daftar NSGT berdasarkan Resolusi 448 dan 1541. Lobi Pelapor Khusus PBB sampai keluar laporan slow-phased extermination. Bawa ke Komisi IV sampai Indonesia minta dihapus catatan.

Mana yang pejuang kemerdekaan? Yang perpanjang penderitaan dengan HAM sampai 2050 OAP jadi 15% seperti Aborigin? Atau yang coba potong penderitaan dengan panah langsung ke jantung cabut resolusi dan gugat di ICJ?

Saya Jhon Anari sendiri bilang: Inti persoalan Papua bukan persoalan siapa jadi Presiden, bukan bintang 14 atau bintang 1, bukan NFRPB, ULMWP, TPNPB, WPLO atau Melanesia Barat. Semua adalah alat. Tujuan satu: dekolonisasi politik bangsa Papua Barat. Papua merdeka tidak datang dari Belanda, Pasifik, Inggris, Indonesia, Amerika, tapi dari persatuan orang Papua itu sendiri sesuai pesan I.S. Kijne dan I.S. Kaisiepo.

Orang yang bicara persatuan, yang kritik pemimpin yang ngotot angkat diri tanpa musyawarah 36 Kodap TPNPB pemilik sah tanah air yang jaga hutan rimba, yang ingatkan bahaya sponsor aparat, apakah pantas disebut provokator divide et impera? Atau justru yang mencegah divide et impera?

KESIMPULAN: PEMBACA YANG MENILAINYA

Komentar Kristian Griapon sah sebagai pertanyaan kritis. Dalam perjuangan 64 tahun wajar rakyat bertanya.

Tapi fakta di lapangan tidak bisa dibantah:

Benny Wenda sudah turun tahta dari ULMWP menurut AD/ART Kongres II Vanuatu 2023. Tapi paksa diri buat kongres tandingan di Jayapura yang disponsor aparat keamanan Indonesia.

Itu fakta yang sudah terjadi di Jayapura yang dilihat semua orang Papua dan Dunia.

Jika mengungkap fakta itu disebut provokator, maka semua wartawan Papua adalah provokator.

Jika mengingatkan bahaya ambisi pemimpin yang mau jadi presiden seumur hidup seperti presiden Afrika, yang buat kongres tandingan dengan fasilitas tempat di Jayapura sementara 36 Kodap TPNPB dan prajurit terbaik seperti Manfred Fatem gugur kaki tanpa sepatu, baju penuh lumpur, kibarkan Bintang Kejora di tepi kali berbatu, apakah itu bukan tugas pejuang?

Saya Jhon Anari bukan malaikat. Saya bisa salah. Tapi saya tidak pernah minta jabatan presiden. Saya Jhon Anari tidak pernah buat kongres tandingan disponsor aparat. Saya hanya minta satu: Mari bersatu, jalankan donasi, cari satu negara sponsor bawa masalah dekolonisasi ke PBB dan gugat Amerika, Belanda, Indonesia di ICJ Den Haag tentang Roma Agreement 30 September 1962.

Itu jalan memotong penderitaan, bukan perpanjang penderitaan dengan HAM terus-terusan.

Maka menjawab Kristian Griapon: Apakah sosok seperti ini pantas disebut pejuang kemerdekaan Papua? Atau bagian dari provokator divide et impera?

Pembaca sudah menilai dari mana sumber divide et impera datang: Dari yang buat kongres tandingan di Jayapura disponsor aparat, atau dari yang tulis dan bongkar kongres tandingan itu?

Semoga TUHAN YESUS kasih hikmat untuk rakyat OAP sadar sandiwara 64 tahun ini.

Agustinus Selegani/Jurnalis Go Indonesia


Advertisement

Pos terkait