DENPASAR | Go Indonesia.Id _ Peradaban Bali saat ini berada di persimpangan jalan antara kemajuan global dan pelestarian nilai fundamental. Menjawab tantangan tersebut, Seminar Nasional bertajuk “Menjaga Warisan Peradaban Bali: Sinergi Spiritual, Budaya, Tata Ruang dan Kebijakan dalam Transformasi Peradaban Bali” sukses digelar di Aula Taman Asoka, Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar, Minggu (10/5).
Acara yang dihadiri oleh 458 peserta secara hibrida ini mempertemukan para pemangku kepentingan strategis, mulai dari Sulinggih, akademisi, tokoh adat, hingga generasi muda Hindu. Forum ini menjadi ruang dialog krusial untuk merumuskan langkah nyata dalam menjaga identitas Bali sebagai pusat spiritual Nusantara.
Seminar secara resmi dibuka oleh Gubernur Bali yang diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bali, **I Gede Suralaga**. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa Bali bukan sekadar destinasi wisata, melainkan peradaban hidup yang memiliki keunikan sistem sosial dan tata ruang yang wajib diproteksi dari derasnya komersialisasi.
*Sorotan Utama Narasumber: Fondasi Spiritual hingga Tata Ruang**
Para pakar yang hadir membedah kompleksitas tantangan Bali dari berbagai perspektif:
*Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma, S.IP:* Menekankan bahwa nilai Hindu, Pura, dan Subak adalah benteng spiritual utama yang menjaga eksistensi Pulau Dewata.
*Dr. I Gusti Made Sunartha (Kakanwil Kemenag Bali):* Menyoroti strategi pendidikan keagamaan untuk memastikan adat dan *dresta* Bali tetap relevan bagi generasi mendatang.
*Ar. I Nyoman Gede Maha Putra, Ph.D:* Mengulas pentingnya arsitektur Bali yang berbasis pada harmoni alam dan kecerdasan lokal.
*Jero Penyarikan Duuran Batur:* Mengingatkan kembali konsep *Sagara-Giri* dan ritus air sebagai fondasi utama kehidupan masyarakat Bali.
*Made Gede Arthadana, SH., MH:* Menekankan pentingnya harmonisasi antara hukum adat dan hukum nasional untuk menjaga keseimbangan sosial (Pawongan) di era global.
*Orasi Kebangsaan: Bali Adalah Cahaya Dunia*
Momen puncak seminar ditandai dengan orasi menggugah dari Ketua Umum Puskor Hindunesia, *Dr(HC). Ida Bagus Ketut Susena, S.Kom*. Beliau menyatakan bahwa seminar ini adalah sebuah momentum kebangkitan dan “ruang perjuangan pemikiran”.
“Bali bukan sekadar wilayah administratif, Bali adalah peradaban hidup,” tegas Gus Susena. Beliau memberikan peringatan keras mengenai ancaman nyata yang dihadapi saat ini, mulai dari alih fungsi lahan yang masif hingga lunturnya nilai-nilai adat. Beliau mengajak seluruh elemen—mulai dari desa adat hingga kaum profesional—untuk berhenti menjadi penonton dan mulai mengambil peran aktif sebagai penjaga peradaban.
Seminar ini menghasilkan kesepahaman bersama bahwa transformasi Bali harus tetap berpijak pada roh spiritualitas. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesadaran kolektif masyarakat menjadi kunci agar Bali tidak kehilangan identitasnya di tengah transformasi zaman.(JW)
Reporter: Kadek Ariawan







