BALI | Go Indonesia.id _Gubernur Bali I Wayan Koster beserta Pemerintah Provinsi Bali berharap melalui peringatan ini, nilai-nilai kesucian, kebersamaan (gotong royong), dan keteguhan moral semakin mengakar kuat demi mewujudkan Bali yang ajeg, sejahtera, dan harmonis.
Dalam rangka menyambut Rahina Suci Purnama Kelima (Purnama Sasih Kelima), masyarakat Bali diajak untuk menjadikan hari suci ini tidak hanya sebagai sarana ritual keagamaan semata, tetapi juga sebagai momentum penyucian rohani dan penguatan tatanan sosial-kehidupan.(26/10/26).
Purnama Kelima yang bertepatan dengan posisi bulan penuh pada sasih yang disucikan memiliki nilai penting dalam tatanan keagamaan Hindu di Bali.
Hari suci ini menjadi puncak bhakti dan penyucian, di mana sinar suci Sang Hyang Chandra dan keagungan Sang Hyang Isvara memancar untuk melestarikan kedamaian batin serta keseimbangan alam semesta.
Lebih dari sekadar momentum ritual, Purnama Kelima dimaknai secara mendalam sebagai landasan refleksi moral dan penguatan jati diri krama Bali. Diharapkan perayaan hari suci ini dapat meneguhkan komitmen bersama dalam membangkitkan kemandirian, menjaga kedaulatan tradisi dan ekonomi lokal, serta mewujudkan keseimbangan hidup secara sekala (nyata) dan niskala (spiritual) sesuai prinsip Tri Hita Karana.
Gubernur berharap momentum suci purnama yang merupakan payogan Sang Hyang Candra (Dewa Kecemerlangan) menjadi waktu yang tepat bagi masyarakat untuk menyucikan pikiran dan memohon kesempurnaan batin.
Peningkatan bhakti ini diharapkan memperkuat keharmonisan antara hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), sesama manusia (pawongan), dan lingkungan (palemahan).
Momentum Purnama Kelima sering kali dimaknai sebagai ruang refleksi diri.
Gubernur mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemimpin di Bali untuk meneladani spirit pengabdian tulus (ngayah secara lascarya) dari para raja dan tokoh pemimpin terdahulu yang telah meletakkan dasar kebudayaan Bali.
Sejalan dengan haluan pembangunan jangka panjang, perayaan hari suci ini diharapkan tidak sekadar menjadi rutinitas upacara, melainkan kontribusi nyata dalam menjaga persatuan, keteduhan sosial, serta memperkuat kearifan lokal sebagai fondasi utama eksistensi Bali ke depan. (JW)
Kadek/Jurnalis Go Indonesia







