Morotai Diuji: Potensi Wisata Besar, Daya Saing Masih Jadi Pekerjaan Rumah

1ca 10

MOROTAI | Go Indonesia.id β€” Potensi wisata bahari Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, kembali masuk dalam pembahasan penguatan daya saing destinasi pariwisata di kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua).

Bank Indonesia (BI) bersama Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar Focus Group Discussion (FGD) pendalaman isu sektor riil untuk menggali kondisi faktual, persoalan, sekaligus kebutuhan pengembangan pariwisata Morotai.

Bacaan Lainnya

Advertisement

FGD bertajuk β€œAnalisis Tourism Competitiveness Destinasi Pariwisata di Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua)” itu berlangsung selama dua hari, 15–16 September 2026, di Hotel Molokai Morotai, Juanga, Kecamatan Morotai Selatan.

Kajian tersebut merupakan kerja sama Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan sebagai koordinator wilayah Sulampua dengan Program Studi Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi Unhas.

Objek kajian mencakup tiga destinasi kepulauan dan bahari, yakni Morotai di Maluku Utara, Raja Ampat di Papua, dan Wakatobi di Sulawesi Tenggara.

Morotai memiliki posisi strategis dalam kajian tersebut karena karakter wilayahnya sebagai destinasi kepulauan dengan kekuatan utama pada potensi wisata bahari.

Namun, potensi tersebut dinilai perlu berjalan beriringan dengan penguatan daya saing destinasi. Infrastruktur, aksesibilitas, konektivitas, amenitas, promosi hingga kapasitas pelaku pariwisata menjadi bagian yang perlu diperkuat secara berkelanjutan.

Dalam FGD, pengembangan pariwisata tidak hanya diarahkan pada peningkatan jumlah wisatawan. Konsep quality tourism menjadi salah satu perhatian, dengan penekanan pada kualitas pengalaman wisatawan, keberlanjutan lingkungan, serta semakin besarnya manfaat ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Penguatan daya saing destinasi salah satunya dapat dilihat melalui kerangka 3A2P, yakni Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas, Promosi, dan Pelaku Pariwisata.

Kerangka tersebut menjadi pendekatan untuk melihat berbagai faktor yang memengaruhi tingkat daya saing destinasi wisata secara lebih terukur.

FGD juga menempatkan pariwisata sebagai salah satu sektor yang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi kawasan Sulampua.

Potensi sumber daya bahari Sulampua, mulai dari keanekaragaman hayati laut hingga karakter pesisir, menjadi modal pengembangan destinasi wisata. Morotai menjadi salah satu daerah yang memiliki karakter tersebut.

Arah pengembangan itu juga berkaitan dengan target sektor pariwisata dalam RPJMN 2025–2029. Empat lokasi destinasi pariwisata prioritas berada di wilayah Sulampua, yakni Wakatobi, Raja Ampat, Likupang dan Morotai.

Karena itu, persoalannya bukan semata seberapa besar potensi yang dimiliki Morotai, tetapi bagaimana potensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi destinasi yang semakin kompetitif, berkualitas dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Untuk menggali persoalan tersebut, FGD melibatkan berbagai unsur selama dua hari pelaksanaan.

Hari pertama menghadirkan organisasi perangkat daerah, industri atau pelaku usaha pariwisata, asosiasi dan komunitas strategis, serta akademisi dan tenaga ahli.

Hari kedua melibatkan OPD dan pelaku pariwisata berbasis komunitas, sektor usaha pariwisata lokal, serta perwakilan masyarakat dan kelompok sosial.

Sejumlah pejabat dan akademisi yang hadir antara lain Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Wimanda, Kepala Perwakilan BI Provinsi Maluku Utara Handi Susila, Sekretaris Daerah Kabupaten Pulau Morotai Muhammad Umar Ali, Senat Akademik dan Pengurus Dewan Profesor Unhas Prof. Dr. Ir. Muh. Restu, MP, serta Ketua Tim Peneliti Prodi Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi Unhas Nur Lisani, S.ST.Par., M.Sc.

Dari forum tersebut, BI dan Unhas menghimpun masukan, pemikiran dan rekomendasi mengenai persoalan pariwisata yang terjadi di lapangan.

Masukan itu selanjutnya menjadi bahan penyusunan asesmen sektor riil untuk menghasilkan rekomendasi pengembangan pariwisata yang aktual, faktual dan implementatif.

Bagi Morotai, kajian tersebut menjadi ruang untuk memetakan kebutuhan pengembangan destinasi secara lebih terukurβ€”mulai dari atraksi, aksesibilitas dan amenitas hingga promosi serta penguatan pelaku pariwisata.

Pengembangan pariwisata Sulampua diharapkan tidak berhenti pada peningkatan angka kunjungan. Orientasinya diarahkan pada pariwisata yang lebih berkualitas, berkelanjutan dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal.

Hasil kajian BI dan Unhas nantinya diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam menentukan langkah pengembangan pariwisata Morotai dan Sulampua secara lebih konkret.

Mir | Jurnalis Go Indonesia.id


Advertisement

Pos terkait