SAROLANGUN | Go Indonesia.Id – Ratusan warga Suku Anak Dalam (SAD) di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, terlibat bentrokan dengan pihak keamanan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit, Senin (13/04/2026).
Camat Air Hitam, Fatur, saat dikonfirmasi membenarkan adanya insiden kericuhan tersebut. Ia menjelaskan, peristiwa bermula ketika warga SAD mendatangi perusahaan untuk menyampaikan tuntutan, yang kemudian difasilitasi melalui proses mediasi bersama pihak terkait.
βSaya bersama Kapolsek dan kepala desa sudah melakukan mediasi dengan pihak perusahaan SAL. Perusahaan memperketat pengamanan dengan melibatkan petugas yang sebagian besar berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT),β ujar Fatur.
Menurutnya, kehadiran puluhan petugas keamanan dari luar daerah tersebut memicu protes dari warga SAD. Sebelumnya, warga SAD juga disebut sempat melakukan aktivitas panen atau mengambil buah sawit di area perusahaan, yang kemudian dihalangi oleh pihak keamanan.
βSituasi itu memicu aksi massa dari SAD, namun sudah kita mediasi. Dalam mediasi, mereka menuntut pengembalian tanah adat serta meminta agar petugas keamanan dari NTT dipulangkan,β jelasnya.
Fatur menambahkan, setelah proses mediasi selesai, warga SAD yang hendak kembali ke rumah masing-masing kembali bertemu dengan pihak keamanan perusahaan di kawasan pos jaga. Pertemuan tersebut memicu bentrokan lanjutan.
βDalam perjalanan pulang, mereka bertemu lagi dengan pihak keamanan di Pos 1 Inti 2. Di situ terjadi keributan, dua orang dari SAD sempat dibawa ke klinik dan dirujuk ke rumah sakit di Merangin,β katanya.
Bentrok kemudian meluas setelah warga SAD lainnya datang dan melakukan penyerangan. Dalam insiden tersebut, dilaporkan terjadi aksi penembakan.
βTiga orang dari pihak keamanan perusahaan SAL mengalami luka tembak, masing-masing di bagian perut, kaki, dan dada,β ungkap Fatur.
Selain itu, massa SAD juga dilaporkan melakukan pembakaran terhadap salah satu rumah yang berada di area camp perusahaan.
Hingga saat ini, situasi di lokasi kejadian masih dalam penanganan aparat, sementara pihak terkait terus berupaya meredam konflik agar tidak meluas.
REDAKSI






