NATUNA | Go Indonesia.Id – Peredaran rokok tanpa pita cukai di wilayah Serasan, Kabupaten Natuna, diduga semakin marak dan diperjualbelikan secara terbuka di sejumlah warung dan toko kecil.
Berdasarkan hasil penelusuran awak media di lapangan, rokok dengan merek ERA ditemukan dijual bebas tanpa dilengkapi pita cukai sebagaimana mestinya. Produk tersebut diduga bukan bagian dari distribusi resmi sesuai ketentuan yang berlaku di Indonesia.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa rokok tersebut diduga berasal dari luar daerah, bahkan disebut-sebut merupakan produk luar negeri yang masuk melalui jalur perbatasan. Namun demikian, asal-usul pasti dan jalur distribusinya masih memerlukan pendalaman serta konfirmasi dari pihak berwenang.
Di beberapa lokasi, penjualan rokok tersebut berlangsung tanpa pembatasan yang jelas. Kondisi ini menimbulkan perhatian masyarakat terkait lemahnya pengawasan terhadap peredaran barang kena cukai di wilayah tersebut.
Seorang warga Serasan yang enggan disebutkan namanya demi alasan keamanan membenarkan bahwa rokok tersebut mudah ditemukan di warung-warung.
Memang ada dijual di beberapa warung, terlihat seperti biasa saja, tidak ada larangan,” ungkapnya.
Terkait dugaan adanya pihak yang berperan sebagai pemasok dalam distribusi rokok tersebut, informasi yang beredar masih bersifat terbatas dan belum dapat diverifikasi secara menyeluruh.
Secara regulasi, peredaran rokok tanpa pita cukai bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai, yang mewajibkan setiap produk hasil tembakau yang beredar di dalam negeri untuk dilekati pita cukai resmi. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi pidana maupun denda sesuai aturan yang berlaku.
Menyikapi kondisi ini, masyarakat berharap aparat penegak hukum dan instansi terkait dapat segera melakukan penelusuran serta pengawasan lebih ketat guna memastikan kepatuhan terhadap hukum dan mencegah potensi kerugian negara.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait temuan tersebut.
Reporter: Baharullazi







