PASBAR | Go Indonesia.id — Sorotan publik terhadap Bupati Pasaman Barat, Yulianto, kian menguat. Sejumlah warga mulai mempertanyakan komitmen kepala daerah tersebut dalam pemberantasan aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI), menyusul kedekatannya dengan tokoh masyarakat berinisial NR.
Warga menilai, intensitas kebersamaan yang kerap tampil di ruang publik bukan sekadar persoalan citra, tetapi berpotensi menimbulkan konflik persepsi di tengah upaya penegakan hukum terhadap aktivitas ilegal yang selama ini menjadi perhatian.
Faisal , salah seorang warga Silaping menyebut kedekatan tersebut berisiko mencederai kepercayaan publik jika tidak disikapi secara bijak.
“Di saat pemerintah dituntut tegas terhadap aktivitas ilegal, justru yang terlihat di publik adalah kedekatan dengan sosok yang diduga berkaitan dengan persoalan tersebut. Ini tentu menimbulkan tanda tanya,” ujarnya, Rabu , 1 April 2026.
Menurut Faisal, kepala daerah seharusnya lebih berhati-hati dalam membangun relasi di ruang publik, apalagi jika bersinggungan dengan isu sensitif seperti PETI yang berdampak langsung terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Ia menilai, eksposur kegiatan positif seperti kehadiran dalam tradisi religius dan budaya jauh lebih relevan untuk memperkuat kepercayaan publik. Salah satunya adalah saat Bupati Yulianto menghadiri tradisi Rayo Anam di Surau Buya Lubuak Landua, Nagari Lubuak Landua Aua Kuniang, Kecamatan Pasaman pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Tradisi tahunan tersebut tidak hanya menjadi ajang ziarah dan silaturahmi kepada ulama (manjalang buya), tetapi juga mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal serta mendorong potensi wisata religi.
“Momentum seperti itu yang seharusnya lebih sering ditampilkan. Bukan justru memperlihatkan kedekatan dengan pihak yang bisa memicu persepsi negatif,” tegas Faisal.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Tondo (nama samaran), warga Pegambiran, Pasaman Barat. Ia mengingatkan agar kepala daerah tidak mengabaikan sensitivitas publik terhadap isu-isu lingkungan, khususnya terkait aktivitas PETI yang selama ini menjadi sorotan.
“Kita tidak ingin ada lagi polemik serupa di masa lalu. Jangan sampai kedekatan ini membuat publik curiga bahwa ada pembiaran terhadap aktivitas ilegal,” ujarnya.
Ia juga mengutip pernyataan motivator Jim Rohn, “You are the average of the five people you spend the most time with.” yang menurutnya relevan dalam konteks kepemimpinan dan integritas.
Di sisi lain, sejumlah warga juga menyinggung sosok NR yang belakangan ini kerap dikaitkan dengan maraknya aktivitas penambangan emas tanpa izin di Pasaman Barat. Di tengah masyarakat, nama tersebut disebut-sebut sebagai salah satu figur berpengaruh di balik berkembangnya aktivitas tambang ilegal.
Meski demikian, hingga kini belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum yang secara terbuka menetapkan keterlibatan yang bersangkutan dalam aktivitas tersebut.
Beberapa warga menilai, langkah NR yang mulai aktif di dunia politik juga memunculkan beragam spekulasi. Ada yang menduga hal itu berkaitan dengan upaya membangun pengaruh politik, termasuk dikaitkan dengan posisi keluarganya yang saat ini duduk di lembaga legislatif daerah.
“Ini yang membuat publik semakin sensitif. Ketika isu lingkungan dan PETI belum tuntas, lalu muncul kedekatan dengan figur yang selama ini diperbincangkan, wajar kalau muncul kecurigaan,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Bupati Pasaman Barat terkait sorotan tersebut. Namun, kritik yang mengemuka menjadi sinyal kuat bahwa publik menuntut konsistensi antara komitmen pemberantasan PETI dengan sikap dan kedekatan yang ditampilkan di ruang publik.(*)
Reporter : Randi







